Kamis, 05 April 2012

Metode Menghafal al-Quran dalam Keluarga

METODE TAHFIDZ AL-QUR’AN DALAM KELUARGA
oleh: M. Ulinnuha, S.Pd.I.

  1. Latar Belakang Masalah
Memiliki buah hati merupakan dambaan setiap insan yang telah menikah. Karena dengan kehadirannya, kedua sejoli akan terasa lengkap dalam berumah tangga. Setiap orang tua pastilah mengharapkan mempunyai anak-anak yang saleh /salehah, Sehingga orang tua rela mempertaruhkan segalanya untuk mewujudkan impian-impiannya melalui potensi yang dimiliki sang buah hati dan didukung oleh kemampuan yang dimiliki orang tuannya. Untuk memperoleh anak yang saleh, pasangan suami istri wajib menjadi saleh salehah terlebih dahulu karena segala perilaku orang tua akan di contoh oleh putra-putrinya. Untuk itu orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.[1]
Persoalan mendidik anak tentu bukan persoalan sederhana, terlebih jika orang tuanya menginginkan buah hatinya kelak menjadi generasi yang cemerlang, tidak hanya cerdas namun juga beriman dan bertakwa. Berprestasi tidak hanya untuk dunia saja melainkan juga bernilai akhirat.[2]
Dalam sebuah hadits disebutkan
عن أبى هريرة رضي الله عنه : أنه كان يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مامن مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء. هل تحسون فيها من جدعاىء ؟[3]
”Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulallah SAW bersabda : tidak ada anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi laksana hewan yang dilahirkan dari induknya. Apakah engkau melihat binatang lahir dengan terputus (hidung, telinga dan sebagainya). (HR. Al Bukhary)
Hadits di atas secara masyhur menjadi rujukan bagi dasar-dasar pendidikan islam. Ada dua hal penting yang perlu dibahas disini pertama berkenaan fitrah tauhid yang dimiliki setiap bayi yang dilahirkan dan kedua, adalah faktor orang tua atau lebih luas lagi lingkungan yang mempengaruhi dan meyebabkan bayi tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Dalam penggalan hadits tersebut ditegaskan, bahwa lingkungan yang buruk bisa mengakibatkan fitrah yang suci pada anak akan lenyap dan digantikan dengan paham atau agama yang menyimpang, bahkan menuju kepada kekafiran. Disini jelas dapat kita lihat, bahwa lingkungan yang buruk bisa menghancurkan perkembangan mental, spiritual, dan intelektual anak. Dari hadits diatas, mengindikasikan bahwa Pendidikan dan pengajaran terhadap anak merupakan sebaik-baik hadiah pemberian orang tua. Dan ini merupakan lebih baik nilainya jika dibanding dengan dunia beserta isinya.[4]
Oleh karena itu pendidikan merupakan salah satu topik amat penting yang mendapatkan perhatian dari Islam, dengan alasan bahwa anak merupakan pilar bagi berdirinya mahligai masyarakat kecil yaitu keluarga, dan keluarga merupakan pilar bagi tegaknya masyarakat makro yaitu ummat. Dengan kata lain, nilai urgensi dari permasalahan ini terletak pada argumen bahwa masa kanak-kanak merupakan fase kehidupan manusia yang amat vital dan sangat menentukan. Dengan segala sifat, ciri-ciri, keistimewaan dan potensi-potensinya yang serba spesifik. Karena itu kedua orang tua, khususnya kaum ibu yang banyak bergelut dengan anak, mempunyai tugas yang amat besar untuk mendidik sang anak dengan pendidikan jasmani, intelektual dan mental-spiritual, baik melalui teladan yang baik atau pengajaran (nasihat-nasihat), sehingga kelak ia dapat memetik tradisi-tradisi yang benar dan pijakan moral yang sempurna dari masa kanak-kanaknya.[5]
Mengajarkan al-Qur'an merupakan hak dan kewajiban utama anak yang harus ditunaikan sesegera mungkin oleh orang tuanya. Artinya, selama orang tua belum menunaikannya pada anak, sedangkan anak telah cukup umur dan orang tua sendiri mampu, maka orang tua berdosa karena belum memenuhi hak kewajibannya.[6]
Masa anak-anak merupakan masa yang sangat tepat untuk menanamkan rasa cinta kepada al-Qur'an dalam diri mereka. Pada saat yang sama, masa ini pun merupakan langkah pertama bagi anak untuk mencintai al-Qur'an. Walaupun begitu, banyak orang tua yang tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap masa ini, yakni perhatian dalam memilih metode pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kondisi anak.[7]
Berbagai tanggung jawab orang tua yang paling besar dalam ranah pendidikan adalah pendidikan yang bertalian dengan pembelajaran al-Qur’an. Baik itu membaca, menulis, hingga menghafal dan yang lebih penting lagi sang anak dapat mengimplementasikan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Betapa banyak orang tua yang merasa senang ketika orang tua dapat memetik jerih payah mereka, ketika sang anak mengikuti alur yang diharapkan oleh orang tuanya. Dan tidak diragukan pula bahwa orang tua yang sadar, ia akan terus mencari berbagai metode tahapan-tahapan pendidikan al-Qur’an (baca, tulis, tahfidz) yang lebih efektif, sehingga anak akan lebih mudah dalam membaca dan menghafal al-Qur’an.[8] Karena menghafal al-Qur’an bukanlah suatu perkara yang mudah laksana membalikkan telapak tangan. Kerumitan di dalamnya yang menyangkut ketepatan pengucapan dan redaksinya tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab kesalahan sedikit saja dapat mengakibatkan kesalahan fatal terhadap makna aslinya. Apabila hal tersebut dibiarkan dan tidak diproteksi secara ketat maka kemurnian al-Qur’an menjadi tidak terjaga dalam setiap aspeknya.[9]
Masing-masing diantara umat Islam tentu saja bercita-cita untuk menghafal al-Qur’an. Seorang muslim juga merasakan semangat dan merasakan bahwa dirinya sebenarnya mampu menghafalnya dengan cara konsisten, menghafal ayat demi ayat, surat demi surat, hingga juz demi juz. Namun setelah itu, mulailah berbagai bisikan dan gangguan batin membuat kita malas dan semangat kita mengendor dengan berbagai alasan, dari surat yang mirip, kata-kata yang sulit, waktu sempit, dan banyak kesibukan.[10]
Menghafal al-Qur’an berbeda dengan menghafal buku atau kamus. Ia adalah kalamullah, yang akan mengangkat derajat mereka yang menghafalnya[11], oleh karena itu para penghafal al-Qur’an perlu mengetahui metode atau upaya agar dapat mencapai derajat tinggi di sisi Allah SWT melalui menghafal dengan baik dan benar.
Walaupun menghafal al-Qur’an dianggap berat, akan tetapi Allah memberikan kabar gembira kepada umat Islam khususnya muslim yang berminat menghafalkan al-Qur’an. Meskipun demikian, setiap tugas dan pekerjaan yang sulit akan menjadi mudah bagi orang yang dimudahkan Allah.[12] Sebagaimana yang termaktub dalam surat ath-Tholaq : 3
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Maksudnya, Allah akan memberi kemudahan kepada orang-orang yang ingin menghafalnya. Jika ada di kalangan manusia yang berusaha untuk menghafalnya, maka Allah akan memberi pertolongan dan kemudahan baginya.[13] Ayat tersebut di atas memberikan kabar gembira bahwa sesungguhnya menghafal al-Qur’an itu mudah, tinggal bagaimana cara memelihara hafalan tersebut dengan baik, benar, dan kuat. Banyak para penghafal al-Qur’an yang mengatakan bahwa dalam memelihara hafalan al-Qur’an itu lebih berat dibandingkan dengan proses menghafalnya.

  1. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang di atas yang telah penulis paparkan, maka muncul permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu bagaimanakah metode tahfidz al-Qur’an dalam keluarga?


Pembahasan Masalah

1. Definisi tahfidz al-Qur’an

Tahfidz al-Qur’an terdiri dari dua kata yaitu tahfidz dan al- Qur’an. Kata tahfidz merupakan bentuk masdar ghoiru mim dari kata:حفظ يحفظ تحفيظا yang mempunyai arti menghafalkan.[14]

Sedangkan menurut Abdul Aziz Abdul Ra’uf definisi tahfidz atau menghafal adalah “proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar”. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti menjadi hafal.”[15]

Sedangkan menurut James Deese dan Stewart H. Huls mendefinisikan menghafal adalah : ….retention refers to the extent to which material originally learned is still retained, and for getting refers to the portion lost.[16] Artinya, ingatan mengacu pada tingkat mempelajari materi yang pada awalnya masih ditahan dan unntuk mencapai porsi.

Menurut Ibnu Madzkur yang dikutip dalam buku Teknik Menghafal al-Qur’an karangan Abdurrab Nawabudin berkata bahwa menghafal adalah orang yang selalu menekuni pekerjaannya[17], pernyataan ini merujuk pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 238.

”Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS : Al-Baqarah : 238).[18]

Maksudnya, shalatlah tepat pada waktunya. Menghafal sesuatu, yaitu mengungkapkan satu demi satu dengan tepat.[19]

Kata tahfidz juga banyak dipakai di dalam Al Qur’an, namun pengertiannya berbeda-beda sesuai dengan konteks kalimatnya, seperti:

a. Dalam surat Yusuf ayat 65

ونحفظ اخا نا .........

“Dan kami akan dapat memelihara saudara kami ”

b. Dalam Surat al Mu’minun ayat 5

والذين هم لفرجهم حافظون

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.”

Banyaknya makna tahfidz dalam al-Qur’an, yang pada dasarnya terletak pada konteks apa makna tersebut yang disandarkan, yaitu seperti contoh ayat di atas yang maknanya berbeda-beda, ada yang bermakna menjaga, memelihara, dan lain sebagainya sesuai dengan redaksi kalimatnya.

Perlu diketahui bahwasanya tahfidz Al-Qur’an berbeda dengan penghafal hadits, sya’ir, atau yang lainnya. Disini disyaratkan dalam 2 hal:

a. Hafal seluruh al-Qur’an serta mencocokannya dengan sempurna

Tidak bisa disebut al-hafizh bagi orang yang hafalannya setengah atau sepertiganya secara rasional. Karena jika yang hafal setengah atau sepertiganya berpredikat al-hafizh, maka bisa dikatakan bahwa seluruh umat islam berpredikat al-hafizh, sebab semuanya mungkin telah hafal surat al-fatihah karena merupakan salah satu rukun shalat dari kebanyakan madzhab. Maka istilah al-hafidz (orang yang berpredikat hafal Qur’an) adalah mutlak bagi yang hafal keseluruhan dengan mencocokan dan menyempurnakan hafalannya menurut aturan-aturan bacaan serta dasar-dasar tajwid yang masyhur.


b. Senantiasa terus menerus dan sungguh-sungguh dalam menjaga hafalan dari lupa

Seorang hafidz harus hafal al-Qur’an seluruhnya. Maka apabila ada orang yang telah hafal kemudian lupa atau lupa sebagian atau keseluruhan karena lalai atau lengah tanpa alasan seperti ketuaan atau sakit, maka tidak dikatakan hafidz dan tidak berhak menyandang pedikat ”penghafal al-Qur’an”.[20]

Kedua kata al-Qur’an {القران}, menurut bahasa al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a {قرأ} yang artinya membaca[21], para ulama’ berbeda pendapat mengenai pengertian atau definisi tentang al-Qur’an. Hal ini terkait sekali dengan masing-masing fungsi dari al-Qur’an itu sendiri.

Sedangkan menurut Mana’ Kahlil al-Qattan sebagaimana yang dikutip Adnan Mahmud Hamid Laonso bahwa, lafadz al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang artinya mengumpulkan dan menghimpun, qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya ke dalam suatu ucapan yang tersusun dengan rapi. Sehingga menurut al-Qattan, al-Qur’an adalah bentuk mashdar dari kata qa-ra-a yang artinya dibaca.[22] Sedangkan menurut Caesar E. Farah mengatakan Qur’an in a literal sense means ”recitation, reading”. Artinya, al-Qur’an dalam sebuah ungkapan literal berarti ucapan atau bacaan.[23]

Sedangkan pengertian al-Quran menurut istilah adalah


القران هوالكتاب المنزل على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم باللفظ العربي, المنقول بالتواتر, المتعبد بتلاوته, المبدوء بسورة الفاتحة, المختوم بسورة الناس[24]

Al Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafad Arab, diriwayatkan secara mutawatir, membacanya termasuk ibadah, yang dimulai dengan surat al-Fatihah, diakhiri dengan surat an-Nas.

Setelah melihat definisi menghafal dan al-Qur’an di atas dapat disimpulkan bahwa menghafal al-Qur’an adalah suatu proses untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw di luar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan maupun sebagiannya.


2. Syarat Menghafal al-Qur’an
Menghafal al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia, akan tetapi menghafal al-Qur’an tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu ada hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum menghafal agar dalam proses menghafal tidak begitu berat.
Diantara beberapa hal yang harus terpenuhi sebelum seseorang memasuki periode menghafal al-Qur’an ialah :
a. Mampu mengosongkan benaknya dari pikiran-pikiran dan teori-teori, atau permasalahan-permasalahan yang akan mengganggunya.
Mengosongkan pikiran lain yang mengganggu dalam proses menghafal merupakan hal yang penting. Dengan kondisi yang seperti ini akan memepermudah dalam proses menghafal al-Qur’an karena benar-benar fokus pada hafalan al-Qur’an.
b. Niat yang ikhlas.
Niat adalah syarat yang paling penting dan paling utama dalam masalah hafalan al-Qur’an. Sebab, apabila seseorang melakukan sebuah perbuatan tanpa dasar mencari keridhaan Allah semata, maka amalannya hanya sia-sia belaka.
c. Merasakan keagungan al-Qur’an.
Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor-faktor yang sangat penting bagi orang yang sedang dalam proses menghafal al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena dalam proses menghafal al-Qur’an akan banyak sekali ditemui berbagai macam kendala.
d. Istiqamah
Yang dimaksud dengan istiqamah adalah konsisten, yaitu tetap menjaga keajegan dalam menghafal al-Qur’an. Dengan perkataan lain penghafal harus senantiasa menjaga kontinuitas dan efisiensi terhadap waktu.
e. Menjauhkan diri dari maksiat dan perbuatan tercela.
Perbuatan maksiat dan perbuatan tercela merupakan sesuatu perbuatan yang harus dijauhi bukan saja oleh orang yang sedang menghafal al-Qur’an, tetapi semua kaum muslim umumnya. Karena keduanya mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa dan mengusik ketenangan hati, sehingga akan menghancurkan istiqamah dan konsentrasi yang telah terbina dan terlatih sedemikian bagus.
f. Izin dari orang tua, wali atau suami.
Walaupun hal ini tidak merupakan keharusan secara mutlak, namun harus ada kejelasan, karena hal demikian akan menciptakan saling pengertian antara kedua belah pihak, yakni antara anak dan orang tua, antara suami dan istri, antara wali dengan pihak yang berada diperwaliannya.
g. Mampu membaca dengan baik.
Sebelum penghafal al-Qur’an memulai hafalannya, hendaknya penghafal mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, baik dalam Tajwid maupun makharij al-huruf, karena hal ini akan mempermudah penghafal untuk melafadzkannya dan menghafalkannya.[25] Adapun yang dimaksud dengan tajwid adalah :
التجويد لغة : التحسين و اصطلاحا : إخراج كل حرف من مخرجه مع إعطائه حقّه ومستحقّه.[26]
Tajwid secara bahasa adalah membaguskan sedangkan secara “istilah artinya keluarnya khuruf dari tempat keluarnya disertai memberi haknya dan keharusannya”

h. Tekad yang kuat dan bulat
Tekad yang kuat dan sungguh-sungguh akan mengantar seseorang ke tempat tujuan, dan akan membentengi atau menjadi perisai terhadap kendala-kendala yang mungkin akan datang merintanginya.[27]



Metode berasal dari bahasa Yunani (Greeca) yaitu “Metha” dan “Hados”, “Metha” berarti melalui/melewati, sedangkan “Hados” berarti jalan/cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.[28]
Metode atau cara sangat penting dalam mencapai keberhasilan menghafal, karena berhsail tidaknya suatu tujuan ditentukan oleh metode yang merupakan bagian integral dalam sistim pembelajaran. Lebih jauh lagi Peter R. Senn mengemukakan, “ metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistimatis.”[29]
Dengan memahami metode menghafal al-Qur’an yang efektif, pasti kekurangan-kekurangan yang ada akan diatasi dan proses menghafal al-Qur’annya akan lebih mudah. Berikut ini beberapa metode untuk mendidik anak agar dapat menghafal al-Qur’an yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri yang dibagi menjadi dua fase:
a. Fase Prenatal
Secara umum pengertian prenatal berasal dari kata pra yang berarti sebelum dan natal yang berarti lahir. Jadi pengertian prenatal adalah sebelum kelahiran, yang berkaitan dengan hal-hal atau keadaan sebelum melahirkan.[30] Atau sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal sebelum melahirkan. Ini berarti sebelum melahirkan ada sesuatu hal yang menunjukkan adanya suatu proses panjang. Hal ini bisa mengandung arti, Pertama, hal-hal yang bersangkutan dimulai masa konsepsi sampai masa melahirkan, sedangan kedua yakni mulai masa pemilihan jodoh, karena pemilihan jodoh itu merupakan hal-hal yang bersangkutan sebelum melahirkan[31]
Menurut Muhammad Mahdi Tabataba’i[32] mengatakan sejak kehamilan Husein, Muhammad Mahdi dan istrinya sudah memulai membacakan al-Qur’an untuk Husein. Begitu pula ketika Husein lahir sudah dibesarkan dalam lingkungan yang cinta al-Qur’an. Disamping itu pula beliau juga mengatakan “ Bila orang tua menginginkan anaknya menjadi pecinta al-Qur’an dan terlebih lagi menghafal al-Qur’an, langkah pertama yang harus dilakukan adalah orang tua harus terlebih dahulu mencintai al-Qur’an dan rajin membaca al-Qur’an di rumah.[33] Dari sini pentingnya figur seorang ayah dan seorang ibu yang sedang hamil memberikan proses pembelajaran pada janin yang dikandungnya dengan penuh cinta kasih sayang. Berikut ini beberapa metode mendidik anak dalam kandungan, diantaranya adalah :
1. Metode Doa
Doa merupakan instrumen yang sangat ampuh untuk mengantarkan kesuksesan sebuah perbuatan. Hal ini dikarenakan segala sesuatu upaya pada akhirnya hanya Allah yang berhak menentukan hasilnya. Oleh karena itu, relevan sekali bila doa ini dijadikan metode utama mendidik anak dalam kandungan.
2. Metode Ibadah
Besar sekali pengaruh yang dilakukan seorang ibu dengan melakukan metode ibadah, seperti halnya shalat wajib maupun sunnah, puasa, shodaqoh dan lain sebagainya. Karena dengan metode ini selain melatih kebiasaan-kebiasaan aplikasi kegiatan ibadah, juga akan menguatkan mental, spiritual, dan keimanan anak setelah lahir dan berkembang menjadi dewasa.[34]
3. Metode Membaca dan Menghafal al-Qur’an
Disamping aktif mengikuti majlis taklim yang dekat dengan rumahnya, membaca buku-buku yang bermanfaat, menghindari sebanyak mungkin dari menghabiskan waktu secara sia-sia para ibu yang hamil juga sangat baik jika membaca, menghafal dan mengkaji al-Qur’an. [35]
4. Metode Zikir
Sebuah sarana yang tidak akan pernah sia-sia adalah berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas. Memohon kepada Allah agar menganugerahi nikmat hafalan al-Qur’an kepada anak yang dikandungnya.
5. Metode Memberi Nutrisi Yang Halal dan Baik
Sebagaimana dikemukakan dalam ilmu medis dan kedokteran, bahwa janin mendapatkan makanan dari ibunya, melalui plasenta. Apa yang dimakan dan diminum oleh ibu akan ditransmisikan oleh plasenta tersebut ke dalam tubuh janin. Apabila ibu itu memakan makanan yang sehat, halalan tayyiban, baik secara material maupun perolehannya, maka janin itu pun akan mendapatkan menu yang sehat pula.[36]
6. Metode Integritas Moral
Dalam hal ini, menjaga integritas moral terhadap sesama manusia maupun mahluk yang lain. Perilaku dan sikap yang bijak, kata-kata yang sopan. Secara fisik dapat dijelaskan bahwa setiap ibu dapat mempengaruhi bayinya yang belum dilahirkan, bukan melalui tali pusar yang merupakan satu-satunya penghubung langsung antara keduanya, melainkan akibat adanya perubahan endoktrin yang dapat dan memang terjadi apabila calon ibu mendapatkan tekanan yang berlebihan dalam waktu yang lama.[37]
Dengan demikian jelaslah pula bahwa seorang ibu memiliki peran yang menentukan bagi anak-anaknya baik moral, intelektual maupun spiritual. Sebaliknya jika seorang ibu yang sedang hamil memiliki persepsi yang positif tentang bayi yang dikandungnya, sebagaimana yang diajarkan oleh islam maka kehamilannya adalah berkah baginya. Karena disatu sisi anak merupakan amanah Allah yang harus dibesarkan dan dididiknya dengan baik. Disisi yang lain, anak juga disebut sebagai rizki, yang tentunya membawa keberuntungan.[38]
Lebih jauh dari metode-metode tersebut, suami juga perlu memberikan stimulus yang bagus, agar terjadi proses pembelajaran pada janin. Langkah-langkah yang diperlukan misalnya, mengajak istri untuk membaca al-Qur’an secara bersama-sama, shalat lail dan memperbanyak sedekah. Sangat baik juga jika sang suami mampu mendorong istrinya untuk merenungi alam sekitarnya, dan diimbangi dengan rasa syukur kepada Allah. Hal-hal ini penting dilakukan, lebih dari sekedar aktivitas professional, karena dengan hal tersebut sang suami memberikan perannya yang terbaik dalam proses pembelajaran janin disamping memberikan rizki yang halalan toyyiban. [39]

b. Fase Kanak-Kanak
Kemampuan anak kecil untuk menghafal tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab berdasarkan realitas menunjukkan bahwa anak kecil mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk merekam dan menghafal melebihi kemampuan orang dewasa. Apabila usia anak lebih dari dua tahun atau mendekati usia tiga tahun, maka inilah saatnya orang tua mulai gencar mendidik anak untuk menghafal al-Qur’an. Dalam situasi seperti ini, orang tua bisa memulainya dengan surat-surat pendek.[40] Berikut ini beberapa metode mendidik anak menghafal al-Qur’an pada fase kanak-kanak, diantaranya adalah :
1. Metode Merekam Suara Anak
Hati manusia cenderung senang mendengarkan suara yang indah dan terbawa pada alunan suaranya. Orang yang mendengarkan suara indah tidak seperti mendengarkan suaranya sendiri. Anak akan merasa senang mendengarkan suaranya sendiri. [41]
2. Metode Menggunakan Video
Alat ini merupakan sarana pendidikan yang paling baik hasilnya bagi anak, apabila digunakan dengan baik dan benar. Dengan cara orang tua merekam bacaan al-Qur’an anak dengan handycam. Kemudian hasilnya ditampilkan dalam sebuah televisi. Dengan metode ini anak akan merasa senang dan menirukan apa yang dibaca, baik itu dilihat sendiri atau bersama teman-temannya.[42]
3. Metode Isyarat Tangan
Dalam metode ini, orang tua memperagakan perilaku sehari-hari yang ada kaitannya dengan al-Qur’an. Sebagai contoh :
“Wa”….(sambil mengucapkan kata wa, tangan diayunkan setengah lingkaran, membentuk isyarat kata wa, yang artinya dan)
“Laahu”, jari telunjuk menunjuk keatas (yang bermakna Allah,Tuhan)
“Yuhibbu”, kedua tangan seolah-olah memeluk sesuatu (bermakna mencintai)
“Muthahhirin”, kedua tangannya memperagakan gerakan orang yang sedang mandi/mencuci[43]

Sehingga lengkaplah ayat yang dimaksud, yakni :
(Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih)

4. Metode Permainan
Metode ini diterapkan sesuai dengan permainan yang disukai anak. Sebagai contoh : permainan yang mengajarkan konsep sebab akibat dari makna ayat yang dimaksud. Misalnya: ketika mengajarkan ayat “Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”, anak diajari bermain kotor-kotoran, lalu mandi, sehingga anak mengerti bahwa mandi itu perlu karena kalau tidak mandi badannya terasa gatal.[44]
5. Metode Cerita[45]
Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar antara lain adalah metode cerita atau kisah. Metode cerita merupakan salah satu dari metode-metode mengajar lainnya yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Pendidikan dengan metode cerita mempunyai daya tarik tersendiri.[46] Karena menghafal ayat al-Qur’an yang disertai penceritaan kisah dan hikmah yang terkandung dalam ayat atau surat tersebut melalui gaya naratif yang mempesonakan anak atau bisa juga melalui kisah-kisah dalam cerita bergambar. Dengan begitu makna ayat akan terpatri dalam jiwa anak. [47]
6. Metode Sima’i
Sima’i artinya mendengar. Yaitu mendengarkan sesuatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat extra, terutama bagi penghafal yang tuna netra atau anak-anak yang mas?h di bawah umur yang belum mengenal baca tulis al-Qur’an. Cara ini bisa mendengar dari orang tua, guru atau mendengar melalui kaset.[48]

c. Fase Remaja atau Dewasa
Metode tahfidz pada fase ini menggunakan metode sebagaimana yang kebanyakan dipakai dalam pondok pesantren, yakni :
1. Metode Wahdah
Yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalkan. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat dapat dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya.
2. Metode Kitabah
Kitabah artinya menulis. Metode ini memberikan alternatif lain dari pada metode yang pertama. Pada metode ini anak terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuk dihafal. Kemudian ayat tersebut dibaca sampai lancar dan benar, kemudian dihafalkannya.
3. Metode Gabungan
Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan kitabah. Hanya saja kitabah di sini lebih mempunyai fungsi sebagai uji coba terhadap ayat-ayat yang telah dihafal. Prakteknya yaitu setelah menghafal kemudian ayat yang telah dihafal kemudian ditulis, sehingga hafalan akan mudah diingat.
4. Metode Jama’
Cara ini dilakukan dengan kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara kolektif, atau bersama-sama, dipimpin oleh orang tua. Yang dilakukan orang tua adalah membacakan ayatnya kemudian anak menirukannya sendiri atau secara bersama-sama.[49]
Sedangkan menurut Sa’dulloh macam-macam metode menghafal adalah sebagai berikut :
a. Bi al-Nadhar
Yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat al-Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang-ulang.
b. Tahfidz
Yaitu menghafal sedikit demi sedikit al-Qur’an yang telah dibaca secara berulang-ulang tersebut.
c. Talaqqi
Yaitu menyetorkan atau mendengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru.
d. Takrir
Yaitu mengulang hafalan atau menyima’kan hafalan yang pernah dihafalakan/sudah disima’kan kepada guru.
e. Tasmi’
Yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan maupun kepada jamaah.
Pada prinsipnya semua metode di atas baik semua untuk dijadikan pedoman menghafal al-Qur’an secara umum, baik salah satu diantaranya, atau dipakai semua sebagai alternatif atau selingan dari mengerjakan suatu pekerjaan yang terkesan monoton, sehingga dengan demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses menghafal al-Qur’an.
Kemudian untuk membantu mempermudah membentuk kesan dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, maka diperlukan strategi menghafal yang baik, adapun strategi itu antara lain :
a. Strategi pengulangan ganda
b. Tidak beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang dihafal benar-benar hafal.
c. Menggunakan satu jenis mushaf.
d. Memahami ayat-ayat yang dihafalnya.
e. Memperhatikan ayat-ayat yang serupa.
f. Disetorkan pada seorang pengampu.[50]
g. Membuat perencanaan yang jelas
h. Bergabung dalam sebuah kelompok
i. Memulai dari juz-juz al-Qur’an yang mudah dihafal
j. Mengadakan perlombaan menghafal al-Qur’an
k. Memanfaatkan usia emas[51]

  1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode tahfidz al-Qur’an dalam keluarga sebagai berikut :
1. Fase pranatal antara lain : metode doa, metode ibadah, metode membaca dan menghafal al-qur’an, metode zikir, metode memberi nutrisi yang halal dan baik, metode integritas moral.
2. Fase kanak-kanak antara lain : metode merekam suara anak, metode menggunakan video, metode isyarat tangan, metode permainan, metode cerita, metode sima’i,
3. Fase remaja atau dewasa antara lain metode wahdah, metode kitabah, metode gabungan, metode jama’.


  1. Penutup
Demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan. Dengan penuh kesadaran diri dan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa mungkin masih terdapat banyak kekurangan, masih banyak hal yang belum penulis rinci. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca sehingga terjadi suatu senergi yang pada akhirnya membuat pemikiran ini bisa lebih disempurnakan lagi di masa yang akan datang. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah keilmuan kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Luth, Melukis Jiwa sang Buah Hati, (Solo: AFKAR, 2006)
Abdurazzaq, Yahya bin Muhammad, Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004)
Abdurrahman, Jamal, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, (Surabaya: La Raiba Bima Amanta (elBA),2007)
Ahsin W., Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000)
Arifin, M, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasrkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996)
Ar-Rosyid, Haya dan Sholih bin Fauzan, Keajaiban Belajar Al-Qur’an, (Solo : Al-Qowam, 2007)
As-Sirjani, Raghib dan Dr.Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, Terj.Sarwedi Hasibuan, (Solo:Aqwam, 2007)
Awwad, Jaudah Muhammad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), terj. Shihabuddin
Deese, James dan Stewart H. Huls, The Psychology Of Lerning, (USA : Mc Graw-Hill, 1967)
Departemen Agama RI , Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Toha Putra, t. th)
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka, 1990)
Farah, Caesar E, Islam Bilief and Observances, (Amerika: Barron’s Education Series, 1987)
Hamam, Hasan bin Ahmad bin Hasan, Menghafal al-Qur’an Itu Mudah, (Jakarta : at-Tazkia, 2008)
Islam, Ubes Nur, Mendidik Anak dalam Kandungan, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004)
Ismail, Abi Abdillah Muhammad, al-Bukhari, (Bairut: Darul Fikri, 1994),
Laonso, Adnan mahmud Hamid, Ulumul Qur’an, (Jakarta : Restu Ilahi,2005)
Mansur, Mendidik Anak Dalam Kandungan , (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002)
Maulany, Said Muhammad, Mendidik Generasi Islami, (Jogjakarta:’Izzan Pustaka, 2002), terj.Ghazali Mukri.
Munawwir, A.W., Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1977)
Mustofa A.Y., Panduan Mengajar Bayi Anda Membaca al-Qur’an Sejak dalam Kandungan, (Yogyakarta : Iqro’ Offset,2006)
Nawabudin, Abdu al-Rabb, Metode Efektif Menghafal al-Qur’an, (Jakarta : CV Tri Daya Inti, 1988)
Qomar, Mujamil, Epistomologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Erlangga, 1995)
Rauf, Abdul Aziz Abdul, Kiat Sukses menjadi Hafidz Qur’an, (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2004), Cet. 4
Riyadh, Sa’d, Agar Anak Mencintai dan Menghafal Al-Qur'an, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007)
Shodiq, Muhammad qomkhawy, al Burhan fii Tadwd al-Qur’an, ( Kairo : ‘Alimul Kitab)
Suharsono, Membelajarkan Anak Dengan Cerita, (Jakarta: Inisiasi Press, 2003)
Sulaeman, Dina Y, Wonderfull Profile of Husein Tabataba’I Doctor Cilik Hafal dan Faham al-Qur’an , (Depok: Pustaka IIMaN, 2007), cet.V
Syarifuddin, Ahmad, Mendidik Anak, Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur'an, (Depok: Gema Insani Press, 2007)
Thaha, Khairiyah Husain, Konsep Ibu Teladan Kajian Pendidikan Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)
Ulwan, Abdullah Nashih, Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Terj.Drs.Saifullah kamalie,Lc, (Semarang: CV. Asy-Syifa’,1993)
Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo : Ramadhani, 1993)



[1]Mustofa A.Y., Panduan Mengajar Bayi Anda Membaca al-Qur’an Sejak dalam Kandungan, (Yogyakarta : Iqro’ Offset,2006), hlm.17.
[2]Luth Abdullah, Melukis Jiwa sang Buah Hati, (Solo: AFKAR, 2006), hlm. 8.
[3]Abi Abdillah Muhammad Ismail, al-Bukhari, (Bairut: Darul Fikri, 1994), hlm.291.
[4]Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, (Surabaya: La Raiba Bima Amanta (elBA),2007), hlm. 21.
[5]Khairiyah Husain Thaha, Konsep Ibu Teladan Kajian Pendidikan Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. v.
[6]Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak, Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur'an, (Depok: Gema Insani Press, 2007), hlm. 67.
[7] Sa’d Riyadh, Agar Anak Mencintai dan Menghafal Al-Qur'an, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm. 63.
[8] Abdullah Nashih Ulwan,Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Terj.Saifullah Kamalie, (Semarang: CV. Asy-Syifa’,1993), hlm.1.
[9] Abdul Aziz Abdul Rauf, Kiat Sukses menjadi Hafidz Qur’an, (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2004), Cet. 4, hlm. 40
[10] Haya Ar-Rosyid dan Sholih bin Fauzan, Keajaiban Belajar Al-Qur’an, (Solo : Al-Qowam, 2007), hlm, 47.
[11] Abdul Aziz Abdul Rauf, Op-Cit, hlm. 55.
[12] Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, Terj.Sarwedi Hasibuan, (Solo:Aqwam, 2007), hlm.53.
[13] Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Menghafal al-Qur’an Itu Mudah, (Jakarta: : at-Tazkia, 2008), hlm, 13.
[14] A.W. Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1977), hlm.279.
[15] Abdul Aziz Abdul Rauf, Op.Cit., hlm, 49.
[16] James Deese dan Stewart H. Huls, The Psychology Of Lerning, (USA : Mc Graw-Hill, 1967), hlm, 370-371.
[17] Abdurrab Nawabudin, Teknik Menghafal al-Qur’an, (Bandung : Sinar Baru, 1991), cet, 1, hlm 23.
[18] Departemen Agama RI , Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Toha Putra, t. th) hlm 400.
[19] Abdurrab Nawabudin, Op.Cit., hlm. 23-24.
[20] Abdurrabb Nawabudin, Metode Efektif Menghafal al-Qur’an, (Jakarta : CV Tri Daya Inti, 1988), hlm, 17.
[21] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta : Hidakarya Agung, 1990), hlm, 305.
[22]Adnan mahmud Hamid Laonso, Ulumul Qur’an, (Jakarta : Restu Ilahi,2005), hlm,2.
[23]Caesar E Farah, Islam Bilief and Observances, (Amerika: Barron’s Education Series, 1987), hlm. 80.
[24] Wahbatu az-Zahiliy, al Qur’an al Karim, (Damaskus: Darul Fikri, t.th), hlm.9.
[25] Ahsin W., Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), hlm, 48-54.
[26] Muhammad Shodiq Qomkhawy, al-Burhan fii Tadwid al-Qur’an, ( Kairo : ‘Alimul Kitab, tth), hlm. 9
[27] Raghib al-Sirjani, Op.Cit., hlm.56.
[28] Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo : Ramadhani, 1993), hlm, 66.
[29] Mujamil Qomar, Epistomologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Erlangga, 1995), hlm.20.
[30] Departemen P dan K, Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka, 1990), hlm.787.
[31] Mansur, Mendidik Anak Dalam Kandungan , (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002), hlm.36.
[32] Ayah dari Muhammad Husein Tabataba’I, seorang anak usia 7 tahun yang menjadi doctor honoris causa dan hafal serta paham al-Qur’an.
[33] Dina Y Sulaeman, Wonderfull Profile of Husein Tabataba’I Doctor Cilik Hafal dan Faham al-Qur’an , (Depok: Pustaka IIMaN, 2007), cet.V, hlm.40.
[34] Ubes Nur Islam, Mendidik Anak dalam Kandungan, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hlm.56.
[35] Suharsono, Membelajarkan Anak Dengan Cerita, (Jakarta: inisiasi Press 2003), hlm.93
[36] Ibid., hlm.69.
[37] Ibid., hlm.97.
[38] Ibid., hlm.107.
[39] Ibid., hlm.105.
[40] Said Muhammad Maulany, Mendidik Generasi Islami, (Jogjakarta:’Izzan Pustaka, 2002), terj.Ghazali Mukri, hlm.68.
[41] Yahya bin Muhammad Abdurazzaq, Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004) Hlm. 127.
[42] Ibid, hlm.144.
[43] Dina Y Sulaeman, Op.Cit., hlm.121.
[44] Ibid., hlm. 162.
[45] Ibid., hlm 145.
[46] M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm.70.
[47] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), terj. Shihabuddin, hlm.15.
[48] Ahsin W, Op.Cit., hlm, 64.
[49] Ibid., hlm, 63-66.
[50] Ibid., hlm, 72.
[51] Dr. Raghib As-Sirjani, Op-Cit, hlm.96.