Senin, 09 April 2012

Sejarah Agama Hindu Masuk di Indonesia

Hindu (bahasa Persia) berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta - sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.[1] Kedatangan orang Yunani berikutnya, menyebut Hindu dengan Indoi, dan orang-orang Barat mengatakan India. Penduduk setempat menyebut keyakinan mereka Sanatana Dharma, yang berarti dharma yang kekal, abadi, tanpa awal dan akhir (anadi ananta). Kebenaran yang diajarkan adalah kebenaran universal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sebagaimana disebutkan dalam Rg Veda VI. 24.7, “Tuhan Yang Maha Esa tidak akan menjadikan dia tua, bulan dan demikian pula hari.”[2]
Agama Hindu disebut Juga  Vaidika Dharma karena bersumber pada wahyu suci Tuhan, yang disebut Pustaka Veda. Makna kata Veda dapat dikaji dengan dua pendekatan yaitu etimologi dan semantic. Secara etimologi, Veda berasal dari Vid yang berarti mengetahui sedangkan Veda  berarti pengetahuan. Dalam semantic, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, kebijaksanaan tertinggi, pengetahuan, spiritual tertinggi atau ajaran suci. Wahyu Veda tidak hanya diterima satu orang, tetapi oleh banyak orang Rsi yang dikenal sebagai Saptarsi, Penerima wahyu Veda, antara lain: Rsi Grtsamada, Rsi Visvamitra, Rsi Vamadeva, Rsi Atri, Rsi Brhadvaja, Rsi Vasistan dan Rsi kanva. Para Rsi tersebut menerima wahyu Tuhan melalui: 1) Svaranada, semula didengar sebagai gema, selanjutnya berubah menjadi sabda Tuhan, dan ini kemudian disampaikan sang Rsi kepada para siswanya; 2) Upanisad, - dalam keadaan meditasi – pikiran para Rsi dimasuki oleh sabda Tuhan, sehingga Rsi berperan sebagai mediator komunikasi Tuhan dengan para muridnya; 3) Darsanam, seorang Rsi berhadapan langsung dengan para dewa dalam suatu pandangan gaib; serta 4) Avantara, wejangan langsung yang disampaikan oleh Tuhan yang berreinkarnasi ke dunia. Sabda suci Tuhan diterima langsung oleh para Maharsi dari Tuhan dikenal sebagai Veda Sruti (Meliputi Rgveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharvaveda). Di bawah Veda Sruti, Umat Hindu juga mengenal sumber-sumber hukum Hindu, yakni smrti (Dharma-sastra), Sila (tingkah laku orang suci), Acara (tradisi yang baik) dan Atmanastusti (kesucian hati).

Agama Hindu di India
Sejarah agama Hindu di India, perkembangannya dapat diketahui dari kitab-kitab suci Hindu yang terhimpun dalam Weda Sruti, Weda Smrti, Intihasa, Upanishad dan lain sebagainya. Perkembangan umat Hindu di India berlangsung dalam kurun waktu yang amat panjang dimana menurut Govinda Das Hinduism Madras, dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a)      Zaman Weda
Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi ke India, dengan menempati lembah sungai Sindhu, yang juga dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa, yang terkenal sebagai pengembara cerdas, tangguh dan trampil. Zaman Weda merupakan zaman penulisan wahyu suci Weda[3] yang pertama yaitu Rig Weda. Kehidupan beragama pada zaman ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Weda samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Weda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok. Weda adalah wahyu atau sabda suci Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi Wasa) yang diyakini oleh umat-Nya sebagai Anadi Ananta yakni tidak berawal dan tidak diketahui kapan diturunkan dan berlaku sepanjang masa.
Weda Samhita dibukukan menjadi empat bagian, yaitu :
1)      Rig Weda, merupakan yang tertua dan yang terpenting, berisi mantera-mantera dalam bentuk nyanyian digunakan untuk mengundang para dewa agar hadir pada upacara-upacara kurban yang dipersembahkan kepada mereka (dewa-dewa). Manteranya terdiri dari 10.522. Imam-imam atau pendeta yang mengajukan pujian ini disebut Hotr.
2)      Sama Weda, isinya hampir seluruhnya diambil dari Rig Weda, kecuali beberapa nyanyian suci dinyanyikan pada waktu upacara dilakukan. Jumlah manteranya terdiri dari 1875. Imam atau pendeta yang menyanyikannya disebut Udgatr.
3)      Yayur Weda, terdiri dari 1975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa yayur atau rafal dan doa. Digunakan untuk mengubah korban menjadi makanan para dewa diucapkan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama dewa yang dihadirkan. Pendeta atau imamnya disebut Adwaryu.
4)      Atharwa Weda, terdiri dari 5987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra dan kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tuntunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, perdukunan. Isi sihir tersebut untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan sebagainya. Dipimpin oleh Atharwan.
b)      Zaman Brahmana
Zaman ini ditandai dengan munculnya kitab Brahmana, yaitu bagian kitab Weda yang kedua. Kitab-kitab ini ditulis oleh bangsa Arya yang bermukim di bagian timur india Utara yaitu lembah sungai Gangga dalam bentuk prosa. Kitab ini memuat himpunan doa-doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban keagamaan. Hal ini disebabkan karena zaman ini adalah suatu zaman yang memusatkan keaktifan rohaninya kepada korban. Pada zaman Brahmana ini memang timbul perubahan-perubahan suasana. Ciri-ciri zaman ini adalah:[4]
1)      Korban mendapat tekanan yang berat
2)      Para imam (Brahmana) menjadi golongan yang paling berkuasa
3)      Munculnya perkembangan kasta[5] dan asrama[6]
4)      Dewa-dewa berubah perangainya
5)      Timbul kitab-kitab sutra
c)      Zaman Upanishad
Dengan adanya catur asrama, terutama Vanaprastha dan Sanyasin menyebabkan mereka sempat mempelajari Weda dengan mendalam sehingga dapat menghasilkan kitab-kitab yang berisi renungan-renungan yang bersifat filosofis, kitab-kitab yang dikarang pada waktu mereka mengasingkan diri di hutan dinamakan kitab-kitab Aranyaka (kitab-kitab rimbna). Di antara kitab-kitab tersebut yang diakui tinggi mutunya sebagai kitab filsafat Hindu adalah kitab Upanishad (up, ni = di dekat; shad = duduk). Jadi Upanishad artinya duduk bersimpuh di dekat gurunya untuk mendengarkan wejangan-wejangan yang bersifat rahasia (khusus). Upanishad terutama mengandung ajaran-ajaran filosofis tentang hakikat atma (Atmawidya). Jadi titik beratnya adalah ontology. Di dalamnya diuraikan tentang hubungan antara Brahman dan Atman.
Masalah asal-usul dan tujuan manusia serta alam semesta digali secra mendalam dalam Upanishad. Isinya banyak yang tidak lagi bersumber pada  Brahmana, bahkan kitab ini menjadi penentang utama terhadap kekuasaan mutlak para pendeta. Di beberapa tempat Upanishad mengecam keras dan mengutuk arti dan nilai korban serta ritus-ritus yang diselenggarakan oleh para Brahmana. Isi kitab Upanishad berbentuk dialog antara seorang guru dan muridnya, atau antara seorang brahmana dengan  brahmana lainnya. Di  dalamnya terdapat uraian filosofis  tentang Atman, Brahman, Karma, Samsara dan Moksha yang kemudian dijadikan Pancasradha Hindu. Masa Upanishad (750-550 SM) ini merupakan permulaan kesuburan filsafat Hindu.[7]

Masuknya Agama Hindu di Indonesia
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertama kalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.[8]
Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.
Mookerjee (ahli - India tahun 1912) menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.
Moens dan Bosch (ahli - Belanda) Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.

Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.
Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:[9]
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.

Agama Hindu di Indonesia
Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu"
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.
Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada  ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan  menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.



[2] I Made Titib “Kualitas Sumber Daya Manusia Dari Sudut Pandang Hindu Dharma”. Dalam jimly Assiddiqie, dkk, Sumber Daya Manusia Untuk Indonesia Masa Depan, (Bandung: Mizan, 1995) dan dikutip oleh I Wayan Suja “Perkembangan Agama Hindu di Indonesia”. Dalam Wiwin Siti Aminah, dkk, Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama, cet. Ke-2, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 4
[3] Isi kitab Weda pada umumnya mengenai ritus (upacara-upacara keagamaan) terutama soal korban. Bermacam-macam cara korban diuraikan di dalamnya dan yang terpenting ialah korban yang menggunakan air soma (semacam minuman yang penyelenggaraannya memerlukan banyak tenaga dan biaya).
Korban-korban tersebut dipersembahkan kepada dewa-dewa yang pada hakikatnya merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan alam yang dahsyat atau yang menakutkan seperti dewa Agni (api), Surya (matahari), Vayu (angin), Maruta (taufan), Pertiwi (bumi), Indra (perang), Waruna (langit), Rud (perusak), dan lain-lainnya. Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada), hlm. 10
Mengenai jenis korban yang dilakukan ada dua, yaitu: 1) Korban tetap, seperti: (1) Tiap kali, (2) Pagi dan sore, (3) Tiap bulan baru, (4) Tiap bulan purnama, (5) Tiap awal musim semi, (6) Tiap awal musim hujan, (7) Tiap awal musim dingin; 2) Korban berkala, seperti: (1) Korban soma, (2) Korban aswamedha/Korban kuda, (3) Korban rajasuya. I Wayan Watra, op.cit., hlm. 38 
[4] I Wayan Watra, op.cit., hlm. 39
[5] Agama Brahmana mengenal adanya kasta-kasta, yaitu kasta Brahmana (pendeta), Ksatria (pemegang tampuk pemerintahan atau perwira), Waisya (golongan pekerja, pedagang atau petani) dan Sudra (rakyat biasa/golongan buruh atau budak). Lihat Mudjahid Abdul Manaf, op.cit, hlm. 12
Setiap lapisan harus menempati kedudukannya dan tetap berada pada kedudukannya serta menjalankan kewajiban di dalam kedudukannya tersebut. Pelanggaran kedudukan dan kewajiban akan menimbulkan kerusakan ketertiban dalam kehidupan kemasyarkatan.
Pada abad-abad menjelang muncul agama Jain dan agama Buddha (abad ke-6 SM), pembagian kasta dalam kehidupan masyarakat terlihat semakin tajam. Kasta sudra, merupakan kasta paling bawah wajib melayani kasta-kasta atasan, terutama kasta Brahmin. Itulah satu-satunya jalan bagi sumber kehidupan. Mereka hanya boleh melakukan kerajinan tangan, terutama membuat alat perabot, menjadi tukang batu, melukis dan menulis. Lihat Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia, cet., III, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996), hlm. 38-39
Jika seorang sudra  berani mengucapkan kata kasar terhadap seseorang dari kasta atasan, lidahnya dipotong. Jika berani duduk pada suatu tempat bersama seorang Brahmin, akan dijatuhi hukuman, dan jika berani mengingatkan seorang Brahmin tentanh kewajiban keagamaannya maka minyak panas akan ditungkan ke dalam mulut dan telinganya.
Kasta-kasta atasan tidak boleh menikah dengan kasta bawahnya. Jika seorang lelaki dari kasta ksatria menikahi perempuan dari kasta waisya maka martabat lelaki tersebut akan jatuh. Itulah beberapa ketentuan mengenai kasta dalam agama Brahmana. Sedikit banyaknya tidak memiliki azas-azas yang dapat diterima oleh perikemanusiaan. Oleh karena itulah pada masa belakangan muncul tantangan seperti agama Jain dan agama Buddha dan juga memicu bangkitnya gerakan reformasi di dalam agama Brahma/Hindu. Ibid., hlm. 40 
[6] Asrama adalah tingkatan hidup. Dalam agama Brahmana disebutkan adanya empat tingkatan hidup yang harus diakui oleh setiap orang penganut agama tersebut. Sebelum memasuki keempat tingkatan tersebut, setiap orang harus lebih dahulu melakukan upacara upanayana, yaitu upacara menjadikan anak menjadi dwija dan resmi sebagai anggota kasta, serta siap memasuki tingkatan hidup yang pertama sampai keempat yang disebut catur asrama, yaitu:
1)    Brahmacari, yaitu masa belajar mencari ilmu pengetahuan untuk menjalani kehidupan selanjutnya.
2)    Grahastha, yaitu tahap hidup berumah tangga dan menjadi keluarga.
3)    Vanaprastha, yaitu hidup menjadi penghuni hutan/bertapa.
4)   Sanyasin, yaitu kewajiban hidup meninggalkan segala sesuatu. I Wayan Watra, op.cit, hlm. 40
[7] Mudjahid Abdul Manaf, op.cit, hlm. 16
[9] Ibid