Selasa, 28 Februari 2017

Ayat-Ayat tentang Kerasulan dan Kenabian

Oke para pembaca, berikut ini penjelasan tentang aya-ayat kerasulan dan kenabian, yang penulis rangkum pada 3 bagian; a) tujuan diutusnya Rasul; b) fungsi wahyu dalam kehidupan; dan c) misi ajaran seluruh rasul.
Perlu dipahami bahwa menurut bahasa, nabi berarti orang yang memberi kabar, orang yang mengkhabarkan hal-hal ghaib, orang yang meramalkan sesuatu. Adapun yang dimaksud dalam terminologi agama ialah, Nabi adalah seorang manusia yang memperoleh wahyu dari Allah yang berisi syariat, sekalipun tidak diperintahkan untuk disampaikan kepada manusia lainnya. Jika dia mendapat perintah Allah untuk disampaikan kepada orang lain, dinamailah dia Rasul. Setiap Rasul itu Nabi, tetapi tidak setiap nabi itu Rasul. (Kitab al-Jawahirul Kalamiyah)[1]

Dalam hubungan itu perlu dibedakan Rasul berupa malaikat dengan Rasul berupa Nabi, selain Rasul dalam bentuk malaikat, di dalam al-Qur’an juga tidak dapat dibedakan antara Nabi dan Rasul, justru nabi-nabi yang tercantum namanya itu sekaligus sebagai Rasul pula. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj : 75
“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat”.
Dalam ayat tersebut menyatakan bahwa Allah berkehendak dan menetapkan memilih dari jenis malaikat dan juga dari jenis manusia untuk menjadi utusan-utusan-Nya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa risalah illahiyah kerasulan atau kenabian adalah wewenang Allah semata-mata.
Dari uraian ayat di atas bahwa Allah memilih dan menetapkan para utusan-utusan-Nya. Maka tujuan diutusnya Rasul, serta fungsi wahyu akan kita bahas dalam makalah ini. Selain dari kedua hal tersebut, dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai misi ajaran seluruh Rasul.


A. Tujuan Diutusnya Para Rasul

1. QS. Al-Baqarah 119
“Sesungguhnya kami Telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka”.[2]
2. QS. Al-Anbiya’ 45
“Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya Aku Hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"
3. QS. Yasin 11
“Sesungguhnya kamu Hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”.
Kata (اتبعittaba’ terambil dari kata (تبعtabi’a yang berarti mengikuti. Penambahan huruf (تta’ pada kata tersebut mengandung makna kesungguhan. Siapa yang bersungguh-sungguh mengikuti adz-dzikr yakni al-Qur’an, maka dia akan memperhatikan dengan seksama dan meneladani Nabi Muhammad saw, akan lahir keimanan yang kukuh dan mantap.
Penggunaan kata (الرحمنar-rahman pada ayat ini dan bukan lafadz “Allah” bertujuan menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw, bukan Tuhan yang mereka persekutukan dengan berhala-berhala. Adapaun ar-rahman yang diperkenalkan Rasulullah saw sebagai salah satu nama Tuhan semesta alam. Kaum beriman yakin bahwa Dia Maha Pengasih, namun demikian, keyakinan tersebut tidak menjadikan mereka lengah dari sifat-Nya yang lain, seperti Jabbar/Maha Perkasa lagi Muntaqim/Maha Pembalas kesalahan pendurhaka. [3]
4. QS. An-Nahl 36
“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
Kata (طاغوتthaghut terambil dari kata (طغىthagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karena penyembahan berhala adalah sesuatu yang sangat buruk dan melampaui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan kesewenang-wenangan terhadap manusia.
Hidayah (petunjuk) yang dimaksud ayat di atas adalah hidayah khusus dalam bidang agama yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang hatinya cenderung untuk beriman dan berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Secara panjang lebar macam-macam hidayah Allah telah penulis kemukakan ketika menafsirkan surah al-fatihah. Di sana antara lain penulis kemukakan bahwa dalam bidang petunjuk keagamaan, Allah menganugerahkan dua macam hidayah. Pertama, hidayah menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar kata hidayah yang mengandung makna ini, misalnya:
“Dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS. Asy-Syura [42]: 52)
Kedua, hidayah (petunjuk) serta kemampuan untuk melaksanakan isi hidayah itu sendiri. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah SWT, karena itu ditegaskannya bahwa :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Qashash [28]: 56).
Allah menganugerahkan hidayah kedua ini kepada mereka yang benar-benar ingin memperolehnya dan melangkahkan kaki guna mendapatkannya.
Ketika berbicara tentang hidayah, secara tegas ayat di atas menyatakan bahwa Allah yang menganugerahkannya, berbeda ketika menguraikan tentang kesesatan. Redaksi yang digunakan ayat ini adalah telah pasti atasnya sanksi kesesatan, tanpa menyebut siapa yang menyesatkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesesatan tersebut pada dasarnya bukan bersumber pertama kali dari Allah SWT, tetapi dari mereka sendiri. Memang ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa : “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki”, tetapi kehendak-Nya itu terlaksana setelah yang bersangkutan sendiri sesat.
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS. Ash-Shaf [61]: 5)[4]


B. Fungsi Wahyu dalam Kehidupan

Menurut bahasa, wahyu adalah pemberian isyarat, pembicaraan dengan rahasia, menggerakkan hati, penulisan segerakan. Adapun yang dimaksudkan dalam terminologi ialah pemberitahuan Allah kepada Nabi-Nya yang berisi penjelasan dan petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus dan benar.
1. QS. Al-Baqarah 213
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.[5]
2. QS. Al-Anbiya’ 25
“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Kami telah mewahyukan kepadamu bahwa tiada Tuhan penguasa dan pengatur langit dan bumi yang wajar disembah kecuali Aku dan Kami tidak mengutusmu wahai Nabi Muhammad, kecuali untuk mewahyukan kepadamu prinsip pokok itu dan demikian juga, Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya masing-masing prinsip dasar yang sama, yakni: “Bahwa tidak ada Tuhan pencipta dan pengatur alam raya, lagi berhak disembah melainkan Aku, maka karena itu sembahlah Aku sendiri oleh kamu semua dan janganlah kamu mempersekutukan-Ku dengan apa dan siapa pun”.
Ayat di atas menggunakan bentuk jamak ketika berbicara tentang pewahyuan kepada para Rasul, yakni dengan menyatakan (نوحي إليهnuhi ilaihi/kami wahyukan kepadanya, tetapi menggunakan bentuk tunggal ketika menunjuk Allah SWT (Aku). Hal tersebut agaknya disebabkan karena ada keterlibatan selain Allah dalam penyampaian wahyu yakni malaikat, sedang dalam hal Ketuhanan dan kewajiban beribadah, maka ia adalah hak khusus Allah yang tidak disentuh oleh siapapun dan tidak boleh melibatkan apa dan siapa pun.[6]


C. Misi Ajaran Seluruh Rasul

1. QS. Ibrahim 4
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Di atas penulis jelaskan makna (إلا بلسان قومهilla bi lisani qaumihi dengan “kecuali dengan bahasa lisan dan pikiran sehat kaumnya”. Ini, karena bahasa di samping merupakan alat komunikasi, juga sebagai cerminan dari pikiran dan pandangan pengguna bahasa itu. Bahasa dapat menggambarkan watak dan pandangan masyarakat pengguna bahasa itu.
Ini merupakan bagian dari kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya bahwa Dia mengutus Rasul-Rasul dari kalangan mereka sendiri dan dengan menggunakan bahasa mereka supaya mereka dapat memahami risalah yang dibawa oleh para Rasul. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Dzar, dia berkata bahwa, rasulullah saw bersabda:
لَمْ يَبْعَثِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيًّا إِلاَّ بِلُغَةِ قَومِهِ (رواه احمد)
“Tidaklah Allah azza wa jalla mengutus seorang Nabi kecuali dengan bahasa kaumnya”. (HR. Ahmad).[7]
2. QS. Fathir 24
“Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan Telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
Karena tugas Nabi Muhammad saw selain memberi peringatan juga membawa berita gembira, maka ayat ini melanjutkan dengan menyatakan bahwa : sesungguhnya Kami mengutusmu kepada seluruh umat manusia dengan haq yakni perutusan yang haq lagi membawa kebenaran serta dari sumber Yang Haq yakni Allah SWT, engkau adalah pembawa berita gembira bagi yang taat dan pemberi peringatan bagi yang durhaka. Dan tidak ada satu umat pun dari umat yang terdahulu melainkan telah berlalu yakni telah datang padanya seorang pemberi peringatan – baik sebagai nabi atau Rasul yang ditugaskan langsung oleh Allah, maupun sebagai penerus ajaran Nabi dan Rasul.
Thabathaba’i menjadikan firman-Nya: (وإن من امة إلا خلا فيها نذيرwa in min ummatin illa khala fiha nadzir/ dan tidak ada satu umat pun melainkan telah berlalu padanya seorang pemberi peringatan, menjadikannya sebagai bukti bahwa setiap generasi masa lalu telah didatangi oleh seorang Rasul. Ini karena ulama itu memahami kata nadzir dalam arti “Rasul” yang menyampaikan berita gembira dan peringatan. Memang –tulisnya– tidak harus nabi itu berasal dari anggota masyarakat yang ada, karena ayat ini tidak menggunakan kata minba/ dari mereka tetapi fiha yakni di dalam masyarakat mereka.[8]
3. QS. Al-Mu’min 78
“Dan Sesungguhnya Telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila Telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu Rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil”.
Persoalan ini memiliki banyak latar belakang. Allah mengisahkan sebagiannya di dalam kitab ini, dan sebagiannya tidak dikisahkan. Di antara masalah yang dikisahkan ialah isyarat tentang jalan panjang, yang mengantarkan, yang jelas dan yang memiliki rambu-rambu. Juga dikisahkan apa yang ditegaskan oleh sunnah terdahulu yang berlaku dan tidak dapat diingkari; serta penjelasan tentang hakikat risalah, fungsi Rasul, dan batasan-batasannya dengan sangat jelas.
Allah juga hendak memberikan pengertian kepada manusia ihwal hakikat ketuhanan dan kenabian. Mereka mengetahui bahwa para rasul itu manusia seperti mereka, yang dipilih Allah, dan ditentukan tugasnya. Mereka tidak mampu dan tidak pernah berusaha untuk melampaui batas-batas tugas ini. Juga supaya manusia mengetahui bahwa penangguhan suatu kejadian luar biasa merupakan rahmat bagi mereka.[9]

ANALISIS
Nabi adalah manusia pilihan Allah di antara sekian banyak manusia. Manusia memiliki tingkat kecerdasan, sehingga Nabi itulah yang memiliki tingkat kecerdasan yang paling tinggi. Sebagai insan pilihan Tuhan yang dapat menerima pancaran sinar wahyu, dan dengan akal Nabi yang bening sehingga mudah menangkap wahyu.
Nabi adalah penuntun umatnya dan sebagai suri tauladan. Tujuan diutusnya para Rasul yakni sebagai pembawa kabar gembira, peringatan, dan sebagai suri tauladan yang baik bagi umatnya. Wahyu yang dibawa oleh para Rasul itu secara garis besar berisi:
1. Aqidah
2. Hukum-hukum
3. Akhlak
4. Ilmu Pengetahuan
5. Tarikh
6. Informasi
Misi ajaran seluruh Rasul itu menyampaikan risalah-risalah Tuhan kepada umatnya. Allah mengutus para Rasul dengan membawa risalah sesuai dengan bahasa kaumnya.

KESIMPULAN
Nabi mempunyai prinsip yang sama dan tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Nabi adalah manusia pilihan Allah di antara sekian banyak manusia. Misi ajaran Rasul itu menyampaikan risalah-risalah Tuhan kepada umatnya. Allah mengutus para Rasul dengan membawa risalah sesuai dengan bahasa kaum-Nya.

DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, Imam, Terjemah Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990.
Quthb, Sayyid, Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2004.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera, 2004.
Ya’qub, Hamzah, Filsafat Agama, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.



[1] Dr. H. Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992, hlm. 137
[2] Imam Jalaluddin, Terjemah Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990, hlm. 62.
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol 11, Jakarta: Lentera, 2004, hlm. 129.
[4] Ibid., vol 7, hlm. 230.
[5] Imam Jalaluddin, op.cit., hlm. 116.
[6] M. Quraish Shihab, op.cit., vol. 8, hlm. 437.
[7] Ibid., vol. 7, hlm. 12.
[8] Ibid., vol. 11, hlm. 203.
[9] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2004, hlm. 139.

Senin, 09 Januari 2017

CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK

CONTOH PENGHITUNGAN ANGSURAN PPh PASAL 25 WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
Si A adalah Pengusaha Warung Makan di Jogjakarta yang memiliki penjualan pada tahun 2010 sebesar Rp180.000.000,-. Si A statusnya kawin dan mempunyai 2 (dua) orang anak. Si A menyelenggarakan pencatatan untuk menghitung pajaknya. Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 yang harus dibayar sebagai angsuran dalam tahun berjalan dihitung sebagai berikut:
  • Jumlah peredaran setahun Rp180.000.000,-
  • Presentase penghasilan norma (lihat daftar presentase norma) = 20%
  • Penghasilan neto setahun = 20% x Rp 180.000.000,- = Rp 3.000.000,-
  • Penghasilan Kena Pajak = penghasilan neto dikurangi PTKP Rp 36.000.000,- – Rp 19.800.000,- = Rp 6.200.000,-
  • Pajak Penghasilan yang terutang : 5% x Rp 6.200.000,- = Rp 310.000,-
  • PPh Pasal 25 (angsuran) yang harus dibayar si A setiap bulan: Rp 310.000,- : 12 = Rp 25.833,-

CONTOH PENGHITUNGAN ANGSURAN PPh PASAL 25 WAJIB PAJAK BADAN
Koperasi Unit Desa A bergerak dibidang simpan pinjam. Pada tahun 2010 memiliki penerimaan bruto dalam setahun sebesar Rp 500.000.000,- dan seluruh biaya-biaya yang berkaitan dengan usaha (sesuai ketentuan perpajakan) sebesar Rp 4.250.000.000,-.
  • Dengan demikian, penghasilan netonya adalah : Rp 500.000.000,- – Rp 425.000.000,- = Rp 75.000.000,-
  • Pajak Penghasilan yang terutang : Rp75.000.000,- x 25% x 50% = Rp9.375.000,-
  • Tarif 50% di atas dikarenakan Koperasi Unit Desa A mendapat fasilitas.
  • PPh Pasal 25 (angsuran) yang harus dibayar KUD A setiap bulan: Rp9.375.000,- : 12 = Rp781.250,-

CONTOH PENGHITUNGAN PELUNASAN PPh PASAL 29 WAJIB ORANG PRIBADI
Si A adalah pengusaha restoran (UMKM) di Jakarta yang tergolong sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu dan menggunakan pencatatan dalam penghitungan besarnya PPh.
  • Jumlah peredaran usaha (omzet) selama setahun adalah Rp 510.500.000,-
  • PPh Pasal 25 (WP OPPT) yang sudah dilunasi (0,75 x Rp 510.500.000,-) adalah Rp 3.828.750,-
  • Setelah dihitung PPh yang terutang selama setahun adalah Rp 10.975.750,-
  • PPh Pasal 29 yang harus dilunasi oleh si A adalah sebesar : Rp 10.975.750,- – Rp 3.828.750,- = Rp 7.147.000,-

CONTOH PENGHITUNGAN PELUNASAN PPh PASAL 29 WAJIB PAJAK BADAN
Koperasi Unit Desa A, setelah menghitung PPh terutang tahun pajak 2010 diketahui PPh terutang setahun sebesar Rp 12.000.000,-.
  • Angsuran PPh Pasal 25 selama tahun 2010 (12 bulan) sebesar : Rp 781.250,- x 12 = Rp 9.375.000,-
  • PPh Pasal 29 yang harus dilunasi oleh KUD A adalah sebesar : PPh yang terutang – angsuran PPh Pasal 25 Rp12.000.000, – Rp9.375.000,- = Rp2.625.000,00

CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS GAJI KARYAWAN
Polan (tidak kawin) yang telah memiliki NPWP adalah karyawan Koperasi, menerima gaji Rp 1.700.000,-/bulan, tunjangan beras Rp 300.000,-/bulan. Penghitungan PPh pasal 21 adalah sebagai berikut:
  • Penghasilan bruto : (1.700.000,- + 300.000,-) = Rp 2.000.000,-
  • Biaya jabatan : (5% x Rp 2.000.000) = Rp 100.000,-
  • Iuran pensiun : = Rp 100.000,-
  • Penghasilan neto sebulan = Rp 1.800.000,-
  • Penghasilan neto setahun : (12 x Rp 1.800.000,-) = Rp 21.600.000,-
  • Penghasilan Tidak Kena Pajak(TK/-) = Rp 15.840.000,-
  • Penghasilan Kena Pajak = Rp 5.760.000,-
  • PPh Pasal 21 setahun : 5% x Rp5.760.000,- = Rp 288.000,-
  • PPh Pasal 21 sebulan : Rp288.000,- : 12 = Rp 24.000,-

CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS GAJI KARYAWAN
Polan (kawin tanpa tanggungan) yang telah memiliki NPWP adalah karyawan Tuan A (UMKM) yang telah ditunjuk KPP sebagai pemotong PPh Pasal 21 , menerima gaji Rp 2.000.000,-/bulan, Penghitungan PPh pasal 21 adalah sebagai berikut:
  • Penghasilan bruto : (2.000.000,- ) = Rp 2.000.000,-
  • Biaya jabatan : (5% x Rp 2.000.000) = Rp 100.000,-
  • Iuran pensiun : = Rp 100.000,-
  • Penghasilan neto sebulan = Rp 1.800.000,-
  • Penghasilan neto setahun : (12 x Rp 1.800.000,-) = Rp 21.600.000,-
  • Penghasilan Tidak Kena Pajak(TK/-) = Rp 17.160.000,-
  • Penghasilan Kena Pajak = Rp 4.440.000,-
  • PPh Pasal 21 setahun : 5% x Rp 4.440.000,- = Rp 222.000,-
  • PPh Pasal 21 sebulan : Rp 222.000,- : 12 = Rp 18.500,-

CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 22 ATAS PEMBELIAN BAHAN-BAHAN UNTUK KEPERLUAN INDUSTRI
Polin adalah UMKM perseorangan (memiliki NPWP) yang telah ditunjuk KPP sebagai pemungut PPh Pasal 22, membayar Rp10.000.000,- untuk pembelian kayu dari pedagang pengumpul. Besarnya PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Polin : Rp10.000.000,- x 0,25 = Rp25.000,-
CONTOH PEMUNGUTAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 22 ATAS IMPOR BARANG
CV Polan (badan memiliki NPWP) melakukan import barang dengan nilai impor Rp50.000.000,-. CV Polan tidak mempunyai Angka Pengenal Impor (API). Besarnya PPh Pasal 22 yang harus disetor oleh CV Polan : Rp50.000.000,- x 7,5% = Rp3.750.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 23 ATAS JASA TERTENTU (SERVICE MESIN ATAU KOMPUTER)
PT Polan (badan memiliki NPWP) membayar ke perusahaan yang bergerak di bidang service komputer dengan nilai jasa Rp5.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 23 yang harus dipotong PT Polan : Rp5.000.000,- x 2% = Rp100.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 23 ATAS JASA TERTENTU (SERVICE MESIN ATAU KOMPUTER)
PT Polan (badan memiliki NPWP) menerima penghasilan dari PT Delta karena memberikan jasa cleaning service dengan nilai kontrak Rp50.000.000,-. Besarnya penghasilan yang diterima PT Polan tersebut yang harus dipotong PPh Pasal 23 oleh PT Delta adalah sebagai berikut : Rp50.000.000,- x 2% = Rp1.000.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 26 ATAS PENGHASILAN TERTENTU (ROYALTI)
PT Polan (badan) membayar royalty ke perusahaan yang berada di luar negeri dengan jumlah Rp100.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 26 yang harus dipotong PT Polan : Rp100.000.000,- x 20% = Rp20.000.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4 AYAT (2) ATAS PENGHASILAN DARI PERSEWAAN TANAH DAN ATAU BANGUNAN
CV Polan (badan memiliki NPWP) membayar kepada Tuan A sebesar Rp10.000.000,-. atas sewa toko. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dipotong CV Polan : Rp10.000.000,- x 10% = Rp1.000.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4 AYAT (2) ATAS PENGHASILAN DARI USAHA JASA KONSTRUKSI
CV Polan (badan memiliki NPWP) menerima penghasilan atas jasa kosntruksi yang diserahkannya ke Dinas Pendidikan kota A sebesar Rp500.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dipotong Dinas Pendidikan Kota A atas penghasilan yang diterima CV Polan : Rp500.000.000,- x 2% = Rp10.000.000,-
CONTOH PENYETORAN SENDIRI DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4 AYAT (2) ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN ATAU BANGUNAN
Tuan Bonar (perseorangan memiliki NPWP) menerima penghasilan atas penjualahan tanah berikut bangunannya sebesar Rp1.000.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus disetor sendiri oleh Tuan B atas penghasilan yang diterimanya : Rp1.000.000.000,- x 5% = Rp50.000.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 15 ATAS PENGHASILAN SEWA KAPAL MILIK PERUSAHAAN PELAYARAN DALAM NEGERI
CV Polan (badan memiliki NPWP) membayar kepada PT C yang merupakan perushaan pelayaran sebesar Rp50.000.000,-. Atas sewa kapal (charter). Besarnya PPh Pasal 15 yang harus dipotong oleh CV Polan :Rp50.000.000,- x 1,2% = Rp600.000,-
CONTOH PENYETORAN SENDIRI DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 15 ATAS PENGHASILAN DARI USAHA PELAYARAN
CV Utama (badan) memiliki usaha perkapalan dan menerima penghasilan atas sewa kapal selama sebulan dari perseorangan (bukan pemotongan) sebesar Rp10.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 15 yang harus disetor sendiri oleh CV Utama atas penghasilan yang diterimanya :Rp10.000.000,- x 1,2% = Rp120.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPN ATAS PENJUALAN BARANG KENA PAJAK
CV Polan (sudah dikukuhkan sebagai PKP) menyerahkan (menjual) Barang Kena Pajak berupa Alatalat tulis kepada pembelinya seharga Rp2.000.000,-. Besarnya PPN yang harus dipungut oleh CV Polan dari pembeli: Rp2.000.000,- x 10% = Rp200.000,- Sehingga total yang ditagih CV Polan kepada pembelinya : Rp2.000.000,- + Rp200.000,- =Rp2.200.000,-
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPN ATAS PENJUALAN BARANG KENA PAJAK KEPADA KANTOR PEMERINTAHAN (PEMUNGUT PPN)
CV Polan (sudah dikukuhkan sebagai PKP) menyerahkan jasa catering kepada Bendahara Kementerian Keuangan dengan kontrak harga Rp20.000.000,-. Besarnya PPN yang harus dipungut oleh CV Polan dari pembeli (Kementrian Keuangan): Rp20.000.000,- x 10% = Rp2.000.000,- Sehingga total yang ditagih CV Polan kepada Bendahara Kementerian Keuangan: Rp2.000.000,- + Rp200.000, =Rp2.200.000,- Namun karena Bendahara Kementerian Keuangan ditunjuk sebagai pemungut, maka PPN yang ditagih CV Polan (sebesar Rp200.000), disetor sendiri oleh Bandahara Kementerian Keuangan tersebut ke bank atau kantor pos 
CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPN ATAS PEMBELIAN BARANG KENA PAJAK ATAU JASA KENA PAJAK
CV Polan (sudah dikukuhkan sebagai PKP) membeli mesin cetak (Barang Kena Pajak) dari PT Bagus (PKP) seharga Rp50.000.000,-. Besarnya PPN yang harus dibayar oleh CV Polan dari pembeli: Rp50.000.000,- x 10% = Rp5.000.000,- Sehingga total yang dibayar CV Polan kepada PT bagus : Rp50.000.000,- + Rp5.000.000,- =Rp55.000.000,-

Jumat, 23 Desember 2016

Maqolah Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari ini bikin hati....

Maqolah Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari ini bikin hati luluh dan pengen nangis....

Coba Baca sampai selesai....

Pilihlah Yang Memberatkan Hatimu
“Apabila ada dua perkara yang serupa, maka pandanglah yang paling memberatkan nafsu, lalu ikuti yang paling memberatkan itu. Sebab tidak ada yang memberatkan nafsu kecuali pasti benar.”

– Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

Manusia seringkali menghadapi dilemma, ketika berhadapan dengan dua masalah yang sulit untuk diputuskan, karena dua-duanya benar, dua-duanya wajib, dua-duanya tidak baik, atau dua-duanya boleh dilakukan. Bukan perkara antara wajib dan haram, antara sunnah dan makruh, antara boleh dan tidak boleh.

Dalam hal-hal yang serupa ini, perkara mana yang harus anda ambil?

Maka kita akan mengambil keputusan yang paling memberatkan nafsu kita. Sebab, mengambil hal yang meringankan nafsu kita, jika yang kita putuskan adalah dua perkara yang nilainya sama, sulit terlepas dari penympangan. Tetapi, jika kita memutuskan yang memberatkan beban nafsu kita, kebenaran akan memihak kita.

Dalam perjalanan para penempuh Jalan Ilahi, seringkali dihadapkan masalah-masalah seperti itu. Kiat paling sederhana dan mapan, adalah memilih yang bukan pilihan selera nafsu kita. Karena sesuatu yang benar sekalipun, jika kita berangkat dari niat yang tidak ikhlas, niat menuruti selera nafsu, praktek kebenaran itu menjadi tidak benar. Contohnya orang berdakwah itu benar, apalagi yang disampaikan kebenaran. Namun menjadi tidak benar bila ketika berdakwah dasarnya adalah hawa nafsu; seperti popularitas, materi, pencarian legitimasi atau pujian-pujian.

Memilih yang bukan selera nafsu kita, berarti memilih selera Allah Swt, memprioritaskan Allah Swt, mencari wilayah yang diridhoiNya.

Kata hati paling dalam adalah muatan kebenaran. Maka Rasulullah Saw, bersabda, “Mintalah fatwa pada hatimu, walau yang lain menfatwaimu, walau yang lain menfatwaimu, walau yang lain menfatwaimu…”

Kata hati adalah ungkapan sejati, yang bisa menepis selera nafsu kita.

Nah, tanda-tanda kita mengikuti selera nafsu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary:

“Diantara tanda-tanda mengikuti selera hawa nafsu adalah bergegas dalam ibadah sunnah, namun malas menegakkan ibadah-ibadah wajib.”

Kebiasaan spiritual yang buruk seseorang tergesa-gesa meraih hal-hal yang ajaib dibalik ibadah, ingin segera diberi karomah, ingin segera dibuka hatinya, ingin ditampakan fenomena-fenoma hebat, dan sebagainya. Semua itu akibat dari nafsu tersembunyi di balik ibadah, khususnya ketika menjalankan hal-hal sunnah.

Sedangkan ketika menjalankan ibadah wajib, hanya dinilai sebagai kewajiban yang harus digugurkan, manakala sudah selesai. Atau sekadar menjalankan kewajiban. Padahal Allah Swt, mewajibkan suatu amal ibadah tertentu, semata saking agung, mulia dan besarnya nilai ibadah tersebut.

Rabu, 21 Desember 2016

Peringatan Maulid Nabi ditinjau dari 3 Aspek

+ Ditinjau dari aspek tradisi budaya, menarik untu dilestarikan.

+ Ditinjau dari pembacaan sholawat, sudah sepantasnya dan memang merupakan sebuah kekuatan untuk menjalain ikatan emosional dengan kanjeng Nabi.

+ Ditinjau dari motifasi dan metode dakwah serta materi ceramahnya, rata rata masih jalan di tempat. ini yang perlu digaris bawahi dan dikaji ulang.

Ibarat kita mempunyai pisau tajam, para penceramah mengatakan bahwa pisau kita itu tajam. Dan ini dikatakan berulang ulang hampir disetiap acara mauludan.

Jarang sekali yang mengatakan dan memberi cara juga solusi, bagaimana pisau yang tajam itu digunakan untuk mengupas buah apel biar bisa dinikmati kelezatannya, digunakan untuk membebaskan dari ketertindasan, membebaskan dari sebuah pemiskinan, juga pisau yang tajam ini bisa digunakan untuk sebuah pembebasan dari pemberhalaan terhadap manusia, harta, juga kekuasaan jabatan.

Sudah sampai mana isi substansi acara budaya mauludan kita?

Selamat memperingati maulid Nabi.

Abdul Chamim
Sluke, 21 Desember 2016.

Selasa, 20 Desember 2016

AL-BAQILANI: SIFAT TUHAN DAN PERBUATAN MANUSIA

AL-BAQILANI : SIFAT TUHAN DAN PERBUATAN MANUSIA
بسم الله الرحمن الرحيم
  1. PENDAHULUAN
Al-Baqilani adalah salah seorang pengikut dan tokoh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Sebagai murid al-Asy’ari melalui dua muridnya, Ibn Mujahid dan Abu Hasan al-Bahili. Namun, ia tidak begitu saja menerima ajaran al-Asy’ari. Dalam beberapa hal ia tidak sepaham dengan gurunya, al-Asy’ari.1 Ini dapat terjadi karena perbedaan waktu dan tempat masing-masing. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ada perbedaan pendapat, meskipun antara murid dan gurunya. Ini menunjukkan pula bahwa kebenaran yang dihasilkan oleh pemikiran hanya bersifat relatif dan dapat menerima perubahan.

  1. BIOGRAFI AL-BAQILANI
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn al-Tayyib ibn Muhammad Abu Bakr al-Baqilani. Wafat tanggal 23 Zul Qa’dah 403 H/ 1013 M di Baghdad.2 Ia pernah menjadi hakim agung dan menonjol dalam berbagai pertemuan ilmiah, terutama dalam pembahasan usul fiqh dan ilmu kalam.
Karya tulisnya sebanyak 55 kitab, namun yang dapat dijumpai hanya 6 kitab, yaitu al-Izaz al-Qur’an; Tamhid; al-Insaf; yang berisi petunjuk singkat pandangan aliran Sunni dan rincian bahasan tentang al-Qur’an tidak diciptakan, qadr, melihat Tuhan dan syafa’at. Manaqib, berisi pembelaan Sunni pada kedudukan pemimpin. Intinsar yang membahas kedudukan lafaz al-Qur’an. Dan al-Bayan yang membahas kenabian.
Dari karya al-Baqilani mendapat gambaran yang jelas tentang perkembangan ilmu kalam Asy’ariyah, serta pemikiran pendahulunya seperti Ibn Furak, Abu Ishaq al-Isfarani dan al-Asy’ari sendiri. Kitab al-Luma’ karya al-Asy’ari menjadi jelas setelah disusun ulang oleh al-Baqilani. Ibn Taimiyyah menyebut al-Baqilani sebagai ahli ilmu kalam Asy’ariyah yang paling cemerlang, pembuka cakrawala pendahulu dan para pengikutnya.3

  1. MASALAH SIFAT TUHAN
Pemikiran al-Baqilani tentang sifat Tuhan berbeda dengan al-Asy’ari yang menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Bagi al-Asy’ari, mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, sebab dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (ilm), tetapi Yang Mengetahui (‘Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya bukanlah zat-Nya. Demikian juga dengan sifat-sifat lain, seperti sifat hayyun, ‘alimun, qadirun, mutakallimun, sami’un, basirun.4
Al-Baqilani menolak pendapat al-Asy’ari tentang adanya sifat Tuhan. Sifat Tuhan yang disebut al-Asy’ari, bukanlah sifat, tetapi hal, dan ini sesuai dengan pendapat Abu Hasyim dari Mu’tazilah,5 meskipun pada mulanya ia mempunyai pendapat yang sebaliknya.
Pada mulanya al-Baqilani menerima pandangan al-Asy’ari tentang sifat-sifat Tuhan, yang kemudian ia kembangkan dan ia bagi menjadi dua bagian, yaitu : sifat zat dan sifat fi’il. Sifat Zat adalah sifat yang senantiasa disifatkan kepada Tuhan, yaitu : al-Hayyah, al-‘Ilm, al-Qudrah, al-Sam’u, al-Basar, al-Iradah, al-Baqa’, al-Wajhu, al-Ainani, al-Yadani, al-Ghadab, al-Rida, dan al-Idrak. Sedang sifat fi’il adalah al-Khalq, al-Rizq, al-‘Adl, al-Ihsan, al-Tafadul, al-In’am, al-Tawab, al-‘Iqab, al-Hasyr dan al-Nasyr.6 Kemudian semua sifat itu ia namakan hal yang sesuai dengan pendapat Abu Hasyim yang Mu’tazilah itu.

  1. MASALAH PERBUATAN MANUSIA
Masalah perbuatan manusia, al-Baqilani berbeda pendapat dengan gurunya, al-Asy’ari, yang berpendapat bahwa perbuatan manusia tidak diwujudkan oleh manusia sendiri dengan istilah kasb,7 dan dalam mewujudkan perbuatan yang diciptakan itu, daya yang ada pada manusia itu tidak mempunyai efek,8 dalam arti, semua perbuatan manusia seluruhnya diciptakan oleh Tuhan.
Bagi al-Baqilani, manusia mempunyai sumbangan yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Yang diwujudkan Tuhan adalah gerak yang terdapat dalam diri manusia, sedang bentuk atau sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia sendiri. Dengan kata lain, gerak dalam diri manusia mengambil berbagai bentuk; duduk, berdiri, berbaring, berjalan dan sebagainya. Gerak sebagai genus (jins) adalah ciptaan Tuhan, sedang duduk, berdiri, berbaring, berjalan dan sebagainya adalah species (na’u) dari gerak adalah perbuatan manusia sendiri. Manusialah yang membuat gerak yang diciptakan Tuhan mengambil bentuk sifat duduk, berdiri dan sebagainya.9 Dengan demikian jika bagi al-Asy’ari, daya manusia tidak mempunyai efek. Tetapi bagi al-Baqilani, daya itu mempunyai efek.
Kemudian untuk menjelaskan pendapatnya itu, al-Baqilani menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada terdiri dari tiga unsur, yaitu jisim, jauhar (substansi atau atom) dan arad (aksiden), dan ketiganya itu telah diadakan, dan yang mengadakan adalah Tuhan.10 Kemudian ia menerangkan tentang perbuatan manusia, karena manusia mengetahui dari dirinya perbedaan antara duduk, berdiri dan berbicara jika terjadi sesuai dengan ikhtisar dan maksudnya. Pada kejadian itu, jauhar netral dan kemudian menerima ‘arad. Gerak perpaduan antara jauhar dan ‘arad itu menimbulkan perbuatan, maka adanya perbuatan itu merupakan hasil dengan daya yang hadits, hal ini disebut kasb. Dengan demikian kasb itu merupakan asas dari daya yang hadits.11

  1. KESIMPULAN
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
    1. Meskipun al-Baqilani pengikut dan murid dari al-Asy’ari, tetapi dalam hal tertentu ia berbeda pendapat dengan gurunya, al-Asy’ari.
    2. Tentang sifat Tuhan yang diakui adanya oleh al-Asy’ari, semula al-Baqilani menerimanya. Namun, kemudian ia mengembangkannya dengan menyebutnya hal seperti pandangan Abu Hasyim dari Mu’tazilah.
    3. Tentang perbuatan manusia juga berbeda pendapat dengan al-Asy’ari yang menyatakan bahwa perbuatan manusia tidak mempunyai efek, karena diciptakan oleh Tuhan. Tetapi, al-Baqilani menyatakan perbuatan manusia mempunyai sumbangan yang efektif, dengan membedakan antara gerak yang diciptakan Tuhan dengan bentuk atau sifat dari gerak yang diciptakan oleh Manusia.
Demikianlah uraian singkat ini, tak lain semoga ada manfaatnya. Kritik dari para pembaca diterima dengan senang hati.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Asy’ari, Abu Hasan Ali ibn Isma’il, Kitab al-Luma’, Richard J. McCarthy, S.J., ed., Beirut: Imprimerie Catholique, 1952.
Al-Badawi, Abd ar-Rahman, Mazahib al-Islamiyyin, I, Beirut: Dar al-Ilm al-Malayyin, 1971.
Al-Syahrastani, Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad, Al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Gibb, H.A.R., dan J.H. Kramers, Shorter Encyclopedia of Islam, Leiden : E.J. Brill, 1974.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1986, cet. V.
------------------------
1 Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1986, cet. V, hlm. 71.
2 Ibid.
3 H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers, Shorter Encyclopedia of Islam, Leiden : E.J. Brill, 1974, hlm. 958.
4 Abu Hasan Ali ibn Isma’il al-Asy’ari, Kitab al-Luma’, Richard J. McCarthy, S.J., ed., Beirut: Imprimerie Catholique, 1952, hlm. 30-31. Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., hlm. 95.
5 Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, ibid.
6 Abd ar-Rahman al-Badawi, Mazahib al-Islamiyyin, I, Beirut: Dar al-Ilm al-Malayyin, 1971, hlm. 615.
7 Abu Hasan Ali ibn Isma’il al-Asy’ari, op.cit., hlm. 71-72.
8 Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, op.cit., hlm. 97.
9 Ibid., hlm. 97-98.
10 Abd ar-Rahman al-Badawi, op.cit., hlm. 601.
11 Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, op.cit., hlm. 97.