Jumat, 13 April 2012

Konsep Keesaan Tuhan Dalam Kristen, Hindu, Dan Islam

Pembahasan tentang konsep ketuhanan merupakan pembahasan pokok dan inti dalam setiap agama, sedangkan persoalan-persoalan lain dibicarakan kemudian. Karena pengakuan seseorang terhadap agama tertentu selalu didasari oleh keyakinan dan penerimaan atas kebenaran Tuhan agama yang dianutnya itu. Seseorang akan sangat sulit dapat menerima suatu agama apapun apabila ia tidak atau belum bisa menerima konsep ketuhanannya.
Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno. Nama “Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum Al-Qur’an diwahyukan, kata itu tidak khusus hanya bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja timur, digunakan untuk memanggil Tuhan[1].
Dalam pemahaman orang Indonesia yang beragama Islam dan Kristen (Katholik maupun Protestan), Tuhan biasa dipanggil dengan sebutan “Allah”. Kata ini berasal dari rumpun bahasa Arab, yaitu dari kata “al” (yang sama artinya dengan “the” dalam bahasa Inggris) dan kata “ilah” (Tuhan). Secara Harfiyah Allah berarti Tuhan Yang Satu. Kata Tuhan kemudian dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan baik menunjukkan kepercayaan monoteisme, yang percaya pada satu Tuhan. Umat Islam memegang teguh ungkapan itu. Bagi orang Kristen (Katholik maupun Protestan) istilah tersebut dapat diterima dengan baik, karena sesungguhnya orang Kristen mengakui adanya satu Tuhan. Hal yang sama terjadi juga dalam agama Hindu, walau ada banyak nama yang diberikan, namun nama-nama yang banyak itu lebih berkaitan dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Yang Mutlak itu sendiri, yang kesemuanya tidak lain adalah Yang Maha Esa[2].
Demikianlah, agama-agama umumnya sepakat dengan keesaan Tuhan, oleh karena itu, penetapan sila ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama dalam dasar negara, yaitu Pancasila, dapat diterima oleh semua agama yang ada di Indonesia.
Akan tetapi, bila ditelusuri lebih jauh, terdapat perbedaan pemahaman yang sangat mendasar pada setiap agama tentang Tuhan Yang Maha Esa itu, esa dalam konsep agama Kristen atau Hindu belum tentu dikatakan esa dalam konsep agama Islam, begitu juga sebaliknya. Adanya perbedaan dasar mengenai konsep keesaan Tuhan dalam tiga agama ini dirasa penting untuk diketahui agar seseorang tidak terjerumus dalam kebimbangan sehingga menganggap semua agama adalah sama, dan berpindah agama bukanlah sesuatu yang luar biasa. Suatu keharusan bagi setiap orang yang beragama untuk mengetahui perbedaan-perbedaan itu supaya ia dapat menentukan sikap tentang konsep keesaan Tuhan manakah yang paling dapat diterima dari agama-agama tersebut.
 Dari beberapa agama yang ada di Indonesia, makalah ini mencoba menjelaskan konsep keesaan Tuhan dalam tiga agama, yaitu: Kristen, Hindu dan Islam, serta mengungkap beberapa perbedaannya yang mendasar agar tidak muncul anggapan bahwa ketiga agama itu pada hakikatnya adalah sama.

Bahwa Tuhan itu esa adalah pengakuan dari agama Kristen, Hindu, dan Islam. Dalam Perjanjian Baru disebutkan perkataan Yesus kepada pengikutnya.
 "Jawab Yesus:"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang
Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihi Tuhan, Allahmu
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu"
. (Markus
12:29-30).
Dalam Injil Markus juga disebutkan.
“Dia [Allah] itu esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia”. (Markus 12:32)
Pernyataan yang sama terdapat dalam kitab suci agama Hindu. Keesaan Tuhan yang disebut Brahman itu dibuktikan dalam berbagai mantra-mantra (ayat-ayat), dalam Veda seperti pada Rigveda I.64.46 disebutkan.
Mereka menyebutNya dengan Indra, Mitra, Varuna, dan Agni. Beliau yang bersayap keemasan Garutman. Beliau Esa, orang bijaksana menyebutNya banyak Nama: Indra, Yama, Marisvan”.
Disebutkan juga bahwa Tuhan Yang Maha Esa bersabda.
Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya
sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)”. (Bhagawadgita, IX:23)
Kitab Upanishad : Chandogya Upanishad Ch. 6 Sec. 2 V. 1 menyatakan bahwa Tuhan hanya ada satu.
Begitu juga pada Rigveda Bk. 1 Hymn 64. V. 46 dinyatakan : “Tuhan itu Maha Esa, panggillah Dia dengan berbagai nama”.
Sedangkan di dalam Islam Tuhan Yang Satu itu dijelaskan secara jelas dan tegas dalam surah Al-Ikhlas. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.
 “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.
 “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”.
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(Al-Ikhlas:1-4)
Al-Qur’an sangat konsisten dengan keesaan Tuhan; dan itu tercermin dalam semboyan yang seringkali dikutip orang yaitu:
“Tiada Tuhan selain Allah”
Semboyan ini telah berulangkali disebut dalam Al-Qur’an; Tercatat kurang lebih sekitar enam puluh kali dengan kata-kata yang sedikit berbeda. Bahkan dalam kalimat pendeknya telah diulang sekitar dua kali[3]:
 “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Ali Imran:18)
Berikut ini adalah ayat-ayat yang memuat kandungan semboyan tersebut di atas, dengan kata-kata  yang sedikit berbeda:
 “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri”.(As-Shaaffat:35)
 “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(Al-Baqarah:163)
"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau.."(Al-Anbiya:87)
 “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku”.(An-Nahl:2)
 “Sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa”.(Al-Maidah: 73)
 “Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya”. (Al-A’raf:65)
 “Dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya”.(Al-Mu’minun:91)
 “Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa”.(An-Nisa:171)
 “Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Al-Kahfi:110)
 “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia".(Thaha: 98)
" Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa ".(Al-An’am:19)
 “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(Al-Baqarah:163)
 “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa”.(As-Shaaffat:4)

PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA KRISTEN
Tritunggal
Inti iman kepercayaan umat  Kristen adalah misteri Tritunggal yang tidak mudah dimengerti – kepercayaan bahwa Allah itu tiga pribadi yang adalah satu – Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.
Sebellius (meninggal pada tahun 215) mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Esa, Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah modalitas atau cara menampakkan diri Tuhan Allah Yang Esa itu. Semula, yaitu di dalam P.L Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah atau modus Bapa, yaitu sebagai pencipta dan pemberi hukum. Sesudah itu Tuhan Allah menampakkan dirinya di dalam wajah Anak, yaitu sebagai juru Selamat yang melepaskan umatNya, yang dimulai dari kelahiran Kristus. Hingga kenaikanNya ke Sorga. Akhirnya Tuhan Allah sejak hari pentekusta menampakkan diriNya di dalam wajah Roh Kudus, yaitu sebagai Yang Menghidupkan. Jadi ketiga sebutan tadi adalah suatu urut-urutan penampakan Tuhan di dalam sejarah[4].
Sedangkan menurut Oregenes (meninggal pada tahun 254), Tuhan Allah adalah satu atau Esa, sebagai lawan dari segala yang banyak. Tuhan ini menjadi sebab segala sesuatu yang berada. Dengan perantaraan Logos atau Firman, Tuhan Allah , yang Roh adanya itu, berhubungan dengan dunia benda. Logos ini berdiri sendiri sebagai suatu zat, yang memiliki kesadaran ilahi dan asas-asas duniawi. Ia adalah gambaran Allah yang sempurna. Sejak kekal ia dilahirkan dari Allah. Karena kekuasaan kehendak ilahi, ia terus-menerus dilahirkan dari zat ilahi. Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Ia satu dengan Allah, akan tetapi sebagai yang keluar dari Allah Bapa, Ia lebih rendah daripada Allah Bapa. Ia adalah pangkat pertama dari perpindahan dari “Yang Esa” kepada “Yang Banyak”, atau pangkat kedua di dalam zat Allah.
Aktivitas Logos atau Anak ini juga lebih rendah dibanding  dengan aktivitas Bapa. Ia adalah pelaksana kehendak Allah Bapa, yang melaksanakan instruksi Allah Bapa, sebagai umpamanya: penjadian.
Roh Kudus dianggapnya juga sebagai zat yang ada pada Allah, yaitu pangkat ketiga di dalam zat Allah itu. Roh Kudus ini adanya karena Anak hubungannya dengan Anak sama dengan hubungan Anak dengan Bapa. Bidang kerjanya juga lebih sempit dibanding dengan bidan kerja Anak. Bapa adalah asas beradanya segala sesuatu, sedang Roh Kudus adalah asas penyucian segala sesuatu.
Jadi ketritunggalan Allah dipandang sebagai berpangkat-pangkat. Oleh karena itu ajaran ini disebut Subordinasianisme. Di sini, perbedaan diantara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dipertahankan, akan tetapi kesatuannya ditiadakan[5].
Karena muncul masalah dalam pembicaraan tiga pribadi dalam konteks monoteistik maka beberapa umat Kristen modern telah berbicara tentang tiga pikiran, jiwa atau kekuatan yang semuanya adalah bagian dari Allah yang sama dan berada dalam keadaan harmonis: Allah Bapa mengasihi Allah putra dengan Roh Kudus sebagai kekuatan yang mempersatukan mereka. Umat Kristen lain berpendapat bahwa akan lebih mudah dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai tiga peran: Allah dalam diri-Nya sendiri adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus[6].
Dengan demikian, konsep keesaan Tuhan dalam agama Kristen belum jelas dan masih diperdebatkan di antara umat Kristiani sendiri.

PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA HINDU
Brahman
            Tidaklah mudah untuk memberikan penjelasan tentang Tuhan karena keterbatasan akal manusia, hal itu menunjukkan begitu kecilnya manusia dihadapanNya. Meski begitu manusia tetaplah membaktikan dirinya dihadapanNya sebagamana tertuang dalam sabda suci Rg veda X.129.6 yaitu:
“Sesungguhnya siapakah yang mengenalNya. Siapa pula yang dapat mengatakan kapan penciptaan itu. Dan kapan pula diciptakan alam semesta ini, diciptakan dewa-dewa. Siapakah yang mengetahui kapan kejadian itu?”
             Sabda suci yang serupa juga terungkap dalam Bhagavadgita X.2 yang artinya:
“Baik para dewa maupun resi agung tidak mengenal asal mulaKu. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber para dewa dan resi agung” [7].
Teologi dalam terminologi agama Hindu disebut Brahma Vidya yaitu pengetahuan tentang Brahma (Tuhan). Kesadaran para resi dan tokoh agama Hindu akan keterbatasan bahasa definisi Tuhan, menimbulkan adagium atau term yang menyatakan bahwa Tuhan itu Neti, Neti, Neti (bukan ini, bukan ini, bukan ini). Karena dalam Brahmasutra dinyatakan bahwa Tuhan itu, “Tad avyaktam, aha hi” (sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan)[8].
Dalam keyakinan agama Hindu, Brahman atau Tuhan hanyalah satu, esa, tidak ada duanya, namun karena kebesaran dan kemuliaanNya, para resi dan orang-orang yang bijak menyebutnya dengan beragam nama.
Kitab Veda juga membicarakan wujud Brahman. Di dalamnya menjelaskan bahwa Brahman sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang sangat cemerlang dan sulit sekali diketahui wujudnya. Dengan kata lain Abstrak, Kekal, Abadi, atau dalam terminologi Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman (Impersonal God) artinya Tuhan tidak berpribadi dan Transenden.
Meski Brahman tidak terjangkau pemikiran manusia atau tidak berwujud, namun jikalau Brahman menghendaki dirinya terlihat dan terwujud, hal itu sangat mudah dilakukan. Brahman yang berwujud disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal God), Tuhan yang berpribadi atau immanent.
Kedua konsep Tuhan yang impersonal dan personal tersebut di atas dapatlah ditemukan dalam mantra Bhagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3 dengan sebutan sebagai berikut[9].
1.  Paranaamam; Tuhan Maha Tinggi dan Abstrak, Kekal Abadi tidak berpribadi impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna) dan Brahman.
Tuhan atau Brahman dalam bentuk yang abstrak tersebut di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (acintya, Bali).
2.  Vyuhanaama; Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan Hana (Ada tidak Ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat.
3.   Vibhawanaama; Tuhan dalam bentuk ini disebut Avatara (turun menyebrang). Tuhan. Ia juga biasa disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal god). Visualisasinyapun dapat:
    1. Tumbuhan/binatang (Unanthropomorphes): tumbuhan Soma, Ikan, Kura-kura, Babi Hutan, Garuda.
    2. Setengah Manusia-binatang (semi-antropomorphes): Hayagrva yaitu manusia berkepala kuda, Natrasimha yaitu manusia berkepala singa.
    3. Bentuk manusia dengan segala kelebihannya (anthro-pomorphes) seperti Vamana, Sri Raama, Kresna, Bhagawan Sri Sathya Narayana.
4.  Antaraatmanama; Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan. Segalanya adalah Brahman (monisme).
5.  Archananaama; Tuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pertima (replika mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa ketuhanan dalam agama Hindu adalah perpaduan dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme. Sekali lagi, ditegaskan dalam agama Hindu apapun wujud dan rupanya Tuhan diyakini hanya satu (esa).
Brahman menurut Veda juga tidak berjenis kelamin dan berusia. Dengan kata lain jenis kelamin dan usia segalanya ada pada diri Tuhan (Artharvaveda.X.8.27: Rgveda VIII.58.2). Hal tersebut logis menurut Vedanta, karena Tuhan adalah segalanya dalam kaitannya konsep monisme. Dengan begitu Tuhan menurut Veda adalah seorang Anak, seorang Ibu, Bapa, Nenek, Datuk, Kekasih dan sekaligus adalah gabungan itu semua, atau bukan semua hal seperti itu[10].

Kedudukan Tuhan dan Sifat Tuhan
            Dalam Veda diungkapkan bahwa Tuhan ada di mana-mana, Maha Ada. Tuhan ada dalam dekat hati, dalam diri kita, sehingga muncul istilah mahavakya: Aham Brama Asmi: Aku adalah Tuhan. Tuhan juga ada pada diri anda, atau dalam mahavakya: Tat Tvam Asi (itu kamu adalah Tuhan). Dalam Rgveda, X.82-3: Yajur dan Atharvaved, II,1.3 disebutkan[11].
“Bapak kami, pencipta kami, penguasa kami, Yang mengetahui semua tempat, segala yang ada. Dialah satu-satunya, memakai nama dewa yang berbeda-beda, Dialah yang dicari oleh semua mahkluk dengan renungan”.
Di dalam Rgveda, X.186.2, dinyatakan selain sebagai Bapak, Penguasa, dan Pencipta, juga sebagai Kawan dan Saudara.
“Ya Tuhan, Engkau Bapa Kami, Saudara kami, dan Kawan kami”.
Adapun sifat Tuhan dalam Veda dan sastra-sastra Hinduistis sangatlah banyak sekali, namun disini disebutkan diantaranya adalah:
Anima (maha halus), Lghina (maha ringan), Mahima (maha ajaib dan besar), Prapti (maha cepat mencapai tujuan), Nirguna (tanpa sifat guna), Nirkara (tak berwujud), Nirvisesa (tanpa ciri), Akarta (tak terwakili), Achintya (tak terpikirkan), Nirupadhi (tak terbatas), Niskalo (tak terbagi), Nirjano (tak terlahirkan).

Dewa
            Telah maklum bahwa dalam agama Hindu terdapat banyak dewa. Namun dewa-dewa itu sebenarnya adalah manifestasi sinarnya Tuhan dalam fungsi tertentu. Matahari bersinar karena dijiwai, diberi spirit oleh Tuhan.
Dewa-dewa itu adalah nama Tuhan dalam berbagai multi fungsi dan dimensi kebesaran dan kemuliaannya[12].
            Kekuasaan dan fungsi Tuhan yang sedemikian tinggi dan luas dan dalam, maka Tuhan memanifestasikan diri (bersinar) dalam wujud dewa-dewa. Bisa dikatakan dewa-dewa itu adalah ciptaan Tuhan meski seakan-akan terpisah dari Tuhan, padahal sesungguhnya dewa-dewa itu bagian integral dari kebesaran dan kecemerlangan sinar Tuhan sebagaimana terungkap dalam Rigveda[13].
“Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah guru agung, penuh kebijaksanaan, menganugerahkan karunia kepada mereka yang bersinar cemerlang, semoga para pencari pengetahuan spiritual, mengetahui rahasia 33 dewa.”
            Selanjutnya ke 33 dewa tersebut dibedakan menurut tempat dan tugasnya masing-masing seperti tertuang dalam Rigveda.I. 139.11 yang berbunyi:
“Wahai para dewa (33 dewa): 11 di sorga, 11 di bumi, 11 berada di langit, semoga engkau bersuka cita dengan persembahan suci ini.”
Dalam Satapatha Brahmana, XIV.5 disebutkan:
“Sesungguhnya Ia mengatakan: adalah kekuatan yang agung dan dasyat sebanyak 33 dewa. Siapakah dewata itu? Mereka adalah delapan wasu, 11 Rudra, 12 aditya. Jumlah seluruhnya 31, (kemudian ditambah) Indra dan Prajaapati, seluruhnya menjadi 33 dewata.”
Delapan Vasu  tersebut adalah:
1. Anala: (agni; dewa api)
2. Dhavaa (dewa bumi)
3. Anila atau Vayu (dewa angin)
4. Prabhasa atau dyaus (dewa langit)
5. Pratyusa atau surya (dewa matahari)
6. Aha atau savitr (dewa antariksa)
7. Candraa atau somma (dewa bulan)
8. Druva atau Druha (dewa konstelasi planet)
Adapun kesebelas dewa lainnya, Rudra (ekadasarudra) diyakini sebagai dewa Siwa dalam bentuk murti atau marah (kodra) yang menguasai 11 penjuru di alam raya. Meski jumlah dewa itu banyak namun tugas utama tetap dipegang oleh trimurti yang sebelumnya mengalami perubahan istilah yaitu:
1. Dewa Agni diganti dan disamakan dengan dewa Brahma  yang berfungsi sebagai pencipta.
2. Dewa Indra dan Bayu diganti dan disamakan dengan Dewa Wisnu. Di dalam Veda, Wisnu  adalah nama lain dari dewa Surya. Wisnu sebagai dewa pemelihara.
3. Dewa surya diganti dan disamakan dengan dewa siwa, berfungsi sebagai dewa pelebur, melebur kembali segala sesuatu yang sudah tidak berfungsi lagi.

PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA ISLAM
Konsep keesaan Tuhan dalam Islam disebut dengan istilah tauhid. Hakekat Tauhid adalah menafikan sekutu bagi Allah SWT pada zat, sifat, ibadah, dan perbuatan[14].
Dalam Al-Qur’an, dalam berbagai ayatnya ketauhidan digambarkan dalam kesatuan perintah dan kesatuan arah (ketauhidan dalam ajaran dan ketauhidan dalam tujuan hidup) selain juga kesatuan penyembahan dan kesatuan ketaatan (ketauhidan dalam hal ibadah dan ketauhidan dalam kesalehan). Dan semua kesatuan ini diarahkan hanya kepada satu tujuan yaitu Tuhan yang satu[15].
Mengenai Tuhan Yang Satu itu, Al-Qur’an menjelaskan secara jelas dan tegas dalam surah Al-Ikhlas. Allah SWT berfirman:
 “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.
 “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.
 “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”.
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(Al-Ikhlas:1-4)
Tuhan itu satu Zat-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya, Dia Maha Tunggal, tak ada yang menyamai-Nya. Maha Tinggi, tak ada lawan-Nya. Maha sendiri, tak ada yang sepadan dengan-Nya. Dia Satu. Qadim, tak ada awal-Nya. Azali, tak ada permulaan-Nya. Dia terus ada, tak berakhir. Abadi, tak berkesudahan. Dia mengatur makhluk-Nya, tak berhenti. Kekal, tak berlalu. Selalu dan selamanya bersifat agung, tak akan habis, dan tak terpisahkan dengan berlalunya masa dan habisnya waktu.
 “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala  sesuatu”.(Al-Hadid:3)
Tuhan itu bukan jisim yang berbentuk, bukan materi yang memiliki batas dan ukuran. Dia tak sama dengan jisim-jisim, tak dapat diukur, tak bisa dibagi. Dia bukan jauhar (substansi) dan tak bisa ditempati jauhar, bukan pula ‘aradh (sifat) dan tak bisa ditempati ‘aradh. Dia tak sama dengan maujud (being) dan tak bisa disamai maujud.
 “... tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.(As-Syuura:11)
Pun Dia tak menyerupai sesuatu. Dia tak dibatasi ukuran, tak dilingkupi daerah, dan tak dikelilingi arah, tak juga diliputi langit dan bumi. Dia bertahta di Arsy sebagaimana yang Dia katakan dan arti  yang dikehendaki-Nya. Tahta yang suci dari menyentuh, menetapi, menempati, mendiami, dan berpindah. Dia tak disokong Arsy, sebaliknya Arsy dan yang memikulnya dipandu kelembutan qudrah-Nya, dan dikuasai dalam genggaman-Nya.
Dia di atas Arsy, langit, dan segala sesuatu hingga bawah tanah. Keadaan-Nya di atas tak menjadikan-Nya lebih dekat kepada Arsy dan langit, tak juga menjadikan-Nya lebih jauh dari bumi dan tanah. Akan tetapi Dia Maha Tinggi daripada Arsy dan langit, Maha Tinggi daripada bumi dan tanah. Walau begitu, Dia dekat dengan segala maujud, dekat dengan hamba-hamba-Nya, lebih dekat daripada urat nadi.
 “dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu".(Saba:47)
Kedekatan-Nya tak sama dengan dekatnya jisim, begitu pula Zat-Nya. Dia tak menempati sesuatu, dan tak sesuatupun menempati-Nya. Maha Tinggi Dia dari ruang lingkup tempat. Maha suci dia dari batas masa. Dia ada sebelum menciptakan masa dan tempat. Dan Dia saat ini tetap seperti ada-Nya[16].

Pembagian Tauhid
Lebih spesifik tentang konsep Tauhid, Beberapa kalangan dari ulama muslim kemudian membuat pembagian Tauhid.
Ada tiga pokok pembagian Tauhid: 1. Tauhid Rububiyyah. 2. Tauhid Uluhiyyah. 3. Tauhid Al-Asma wash Shifat.
  1. Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah SWT, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, dan Dia adalah Raja, Penguasa, dan Yang Mengatur segala sesuatu[17].
  1. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah disebut juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah SWT melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila hal itu disyariatkan oleh-Nya, seperti berdoa, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (meminta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyariatkan dan diperintahkan Allah SWT dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya karena Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (Syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya[18].
  1. Tauhid Al- Asma wash Shifat
Ahlussunnah menetapkan apa-apa yang Allah SWT dan Rasu-Nya telah tetapkan atas Diri-Nya, baik itu dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah SWT, dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya SAW[19].

PERBEDAAN DASAR KONSEP KEESAAN TUHAN ANTARA AGAMA ISLAM,  KRISTEN, DAN HINDU
Islam dengan tegas menolak kepercayaan Kristen bahwa Tuhan itu tiga pribadi dalam satu hakekat (Tritunggal), apapun penjelasannya. Islam juga sangat menentang keyakinan Hindu bahwa Tuhan  memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk dan rupa makhluk ciptaannya. Dalam konsepsi Islam tentang Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Tuhan tidak menjelma sebagai siapapun atau apapun. Al-Qur’an dengan tegas dan lugas mengatakan bahwa: tiada Tuhan selain Allah. Konsep tauhid dalam Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa Tuhan Pencipta itu adalah Tuhan dari segala tuhan.
Pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Brahama, artinya: pencipta, bahasa arabnya khaliq. Umat muslim tidak keberatan kalau Allah dipanggil dengan Khalik atau Brahama. Tapi kalau orang menyebutkan Brahama itu adalah Tuhan yang berkepala 4 dengan mahkota, umat muslim sangat tidak setuju.
Begitu juga pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Vishnu, artinya: pemelihara alam, yang memberi rizki. Bahasa arabnya adalah “Rabb”. Orang muslim tidak keberatan Allah disebut Rabb atau Vishnu. Yang jadi masalah adalah Vishnu adalah Tuhan yang punya 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak bisa menerima itu[20].
PENUTUP
Pada dasarnya semua agama mengakui keesaan Tuhan, namun dalam kenyataannya, pemahaman tentang keesaan Tuhan itu berbeda, masing-masing agama memiliki konsepnya sendiri tentang ketuhanan, dari konsep-konsep ketuhanan itu dapat dinilai apakah suatu agama tetap konsisten dengan keesaan Tuhannya atau tidak.
Jikalau semua agama sama, tidak akan ada orang yg berdakwah untuk agamanya. Bahkan semua orang tidak akan keberatan untuk berpindah agama kapanpun ia mau. Tapi kenyataannya tidak mudah bagi seseorang untuk berpindah agama, termasuk mereka yang sering berteriak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Hanya mereka yang benar-benar telah menemukan alasan yang kuat secara pribadilah yang mampu melakukannya.
Mengatakan semua agama sama adalah seperti menanyakan 2+2 = berapa? apakah 2, 3, atau 4? lalu ada orang yg menjawab bahwa semuanya benar. Hal ini tentu saja tidak benar. Perbedaan itu pasti ada, bahkan tentang keesaan Tuhan yang sama-sama diakui oleh agama-agama.
Tidak ada paksaan dalam agama, setiap orang bebas untuk mengimani atau mengingkari konsep ketuhanan yang ditawarkan agama-agama, atau mengingkari Tuhan secara mutlak, dan kelak dialah yang akan mempertanggung jawabkan pilihannya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.




DAFTAR PUSTAKA

al-Ghazali, Muhammad bin Muhammad. 2008. Ihya Ulumuddin, juz 1. Beirut: Daarul Fikr.

Aminan, Wiwin Siti. 2005. Sejarah,Teologi, dan Etika Agama-Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

at-Tamimi, Utsman bin Abdul Aziz.1425 H. Fathul hamid fi Syarhittauhid. Makkah Al-Mukarramah.

Baheshti, Sayyid Muhammad Husayni. 2002. God in The Qur’an, edisi terjemah oleh: Apep Wahyudin, Selangkah Menuju Allah: penjelasan Al-Qur’an Tentang Tuhan. Jakarta: Pustaka Zahra.

Gea, Antonius Atoshokhi, et. al. 2006. Relasi dengan Tuhan. PT Elex Media Komputindo.

Hadiwijono, Harun. 2007. Iman Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.

Herlianto. 2005. Siapakah Yang bernama Allah Itu? Jakarta: Gunung Mulia.

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2006. Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Bogor: Pustaka Imam As-Syafi’i.

Keene, Michael. 2006. Kristianitas. Jogyakarta: Kanisius.

Mavinkurve, et. al. 1998. Ilmu Pengetahuan dan Spriritual. Terjemahan I Wayan Maswinara. Surabaya: Penerbit Paramita.

Pudja, G. 1995. Sama Veda Samhita: Teks dan Terjemahan. Jakarta: Hanuman Sakti.



[1] Herlianto, Siapakah Yang bernama Allah Itu? (Jakarta: Gunung Mulia, cet.3, 2005), hlm. 88
[2] Antonius Atoshokhi Gea, Noor Rachmat, Antonina Panca Yuni Wulandari, Relasi dengan Tuhan (PT Elex Media Komputindo, 2006), hlm. 46-48
[3] Sayyid Muhammad Husayni Baheshti, God in The Qur’an, edisi terjemah oleh: Apep Wahyudin, Selangkah Menuju Allah: penjelasan Al-Qur’an Tentang Tuhan (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm. 111
[4] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), hlm. 105
[5] Ibid.,
[6] Michael Keene, Kristianitas (Jogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 44
[7] Wiwin Siti Aminan, Sejarah,Teologi, dan Etika Agama-Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005), hlm.  93-94
[8] Ibid., hlm. 96
[9] Ibid., hlm. 100
[10] Ibid., hlm. 105
[11] Mavinkurve, et. al. Ilmu Pengetahuan dan Spriritual. Terjemahan I Wayan Maswinara. Surabaya: Penerbit Paramita,1998), hlm. 70
[12] www.geocities.com/hinduraditya/115. diakses tgl 31/01/2012
[13]Pudja, G. Sama Veda Samhita: Teks dan Terjemahan. Jakarta: Hanuman Sakti,1995), hlm. 58
[14] Utsman bin Abdul Aziz at-Tamimi, Fathul hamid fi Syarhittauhid (Makkah Al-Mukarramah: 1425 H), hlm. 234
[15] Sayyid Muhammad Husayni Baheshti, God in The Qur’an, hlm. 114
[16] Abu Hamid, Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz 1 (Beirut: Daarul Fikr, 2008), hlm. 118-119
[17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Bogor: Pustaka Imam As-Syafi’i, 2006), hlm.146.
[18] Ibid., hlm.152
[19] Ibid., hlm.162

Brobux jare