Jumat, 06 April 2012

Teori Hedonisme Sebagai Tujuan Kemaslahatan

Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kala itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. 
Ketika hidup dijalani, seorang manusia tidak akan terlepas dari keterikatan hubungan dengan manusia lainnya. Hal ini dapat dipahami karena ia adalah makhluk sosial. Tidak satupun yang merasa dan siap menghadapi kenyataan hidup seorang diri di tengah keramaian dan hiruk pikuknya dunia ini tanpa bantuan orang lain. Agama bahkan mengajarkan akan pentingya hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam sekitarnya serta mengembangan hubungan kasih sayang, sehingga tercipta kehidupan yang ideal dan harmonis.
Namun, aktivitas yang dilakukan manusia dalam interaksi sosial itu tidak akan pernah lepas dan selalu bersinggungan dengan nilai-nilai, baik yang tertulis maupun tidak. Sehingga disadari ataupun tidak, dalam menjalani aktivitas hidupnya, selalu dilandaskan pada nilai-nilai dalam lingkup dirinya, orang lain dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat pun seyogyanya tidak terlepas dari nilai-nilai sebagai pengontrol/pengendali, agar tidak terjerembab ke dalam keangkaramurkaan dan nafsu serakah yang pada akhirnya akan menghancurkan dunia dan peradaban manusia itu sendiri. Iptek yang disenyawakan dengan nilai-nilai atau etika ilmiah niscaya akan membuahkan produk yang bermanfaat tanpa harus bermasalah dengan tatanan peradaban umat manusia.
Pembahasan yang terkait dengan konsep nilai, sebenarnya merupakan kajian yang sangat erat secara substansial dengan persoalan etika. Kajian dalam persoalan ini biasanya mempertanyakan "apakah baik atau buruk", atau "bagaimana mestinya berbuat baik sehingga tujuan dapat dicapai dan bernilai". Menyikapi hal tersebut, dalam pembahasan makalah ini, akan dipaparkan tentang apa pengertian filsafat hedonisme dalam aksiologinya.

CABANG FILSAFAT DAN ALIRANNYA
Untuk mengkaji filsafat secara sistematis, pertama kita golongkan terlebih dahulu menjadi dua kategori kedudukan filsafat. Pertama filsafat teoritis, kedua filsafat praktis. Filsafat teoritis digarap oleh ahli filsafat. Sedangkan filsafat praktis merupakan garapan filsuf. Adakalanya seseorang ahli filsafat bukan seorang filsuf. Seorang ahli filsafat adalah seorang yang menguasai secara akademis dan teoritis tentang asas, historis dan sistematika filsafat-filsafat. Seseorang mungkin mengetahui banyak hal tentang filsafat, tetapi ia sendiri tidak berfikir filsafati seperti filsuf. Mempelajari filsafat tidak ada bedanya dengan mempelajari ilmu-ilmu lainnya yang mengharuskan kinerja akal[1].
Untuk memahami filsafat secara teoritis, maka para ahli filsafat membagi kajiannya menjadi tiga bahasan utama, yaitu historis, sistematis dan asas. Pertama, filsafat secara historis terbagi atas filsafat klasik, modern dan kontemporer dengan ranah kajian filsafat Barat, Timur dan Islam. Kedua, filsafat secara sistematis terbagi atas bahasan tentang cabang dan aliran. Contoh cabang filsafat adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Contoh aliran filsafat ialah matrealisme, idealisme. Sedangkan yang dimaksud aksiologi yaitu cabang filsafat yang membahas mengenai tindakan. Aksiologi terdiri dari aliran-aliran berwujud: Idealisme Etis, Deontologisme Etis, Etika Teleologis, Hedonisme dan Utilitarianisme[2]. Dan dalam makalah ini akan dibahas tentang aliran filsafat hedonisme.

ALIRAN FILSAFAT HEDONISME
Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kala itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. Mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati. Namun waktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu, carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap embusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam.
Kedangkalan makna mulai terasa. Pemahaman negatif melekat dan pemahaman positif menghilang dalam hedonisme. Karena pemahaman hedonis yang lebih mengedepankan kebahagiaan diganti dengan mengutamakan kenikmatan. Pengertian kenikmatan berbeda dari kebahagiaan. Kenikmatan cenderung lebih bersifat duniawi daripada rohani. Kenikmatan hanya mengejar hal-hal yang bersifat sementara. Masa depan tidak lagi terpikirkan. Saat paling utama dan berarti adalah saat ini. Bukan masa depan atau masa lalu. Hidup adalah suatu kesempatan yang datangnya hanya sekali. Karena itu, isilah dengan kenikmatan tanpa memikirkan efek jangka panjang yang akan diakibatkan. Bila terlampau memikirkan baik buruknya hidup, akan sia-sia karena setiap kesempatan yang ada akan terlewatkan. Demikian pemikiran hedonis negatif yang berkembang saat ini. Pemikiran itu agaknya sangat cocok dengan gaya hidup masyarakat modern. Individualitas dan nafsu untuk meraih kenikmatan sangat kental mewarnai kehidupan kita. Paham ini mulai merasuki kehidupan remaja.
Hedonisme, dalam konteks dunia modern adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya satu kali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas.
Kita bisa menyaksikan bahwa saat ini kebanyakan orang terutama para remajanya berbondong-bondong digiring untuk menjalani kehidupan yang berpangkal pada pencarian kesenangan semata, salah satunya berwujud dunia entertaintment. Barangkali, banyak dari kita yang belum sadar mengenai hedonisme sebagai sebuah sistem filsafat etika yang muncul di Barat.
Hedonisme yang sekarang diartikan sebagai kesenangan belaka adalah efek dari renaissance di barat sebagai balasan atas hegemoni gereja. Gereja yang saat itu memiliki kekuatan ternyata menyalahgunakannya. Sehingga muncul perlawanan dan mengakibat sekularisasi dalam berbagai lini. Agama seakan menjadi tidak penting karena pengalaman masa lalu hegemoni gereja. Rakyat akhirnya mencari pemenuhan eksistensi dengan jalan materialisme dan berujung pada hedonisme negatif.
Menurut kamus Indonesia, hedonisme berasal dari bahasa Yunani yang derivasi katanya; ‘hedon’ (pleasure) dan ‘isme’. Yang diartikan sebagai paradigma berpikir yang menjadikan kesenangan sebagai pusat tindakan (any way of thinking that gives pleasure a central role). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Secara general, hedonisme bermakna, kesenangan merupakan satu-satunya manfaat atau kebaikan. Dengan demikian hedonisme bisa didefinisikan sebagai sebuah doktrin (filsafat etika) yang berpegangan bahwa tingkah laku itu digerakkan oleh keinginan atau hasrat terhadap kesenangan dan menghindar dari segala penderitaan.
Paradigma hedonistis memfokuskan pandangannya pada pencarian kesenangan dan penghindaran terhadap segala penderitaan. Namun dewasa ini substansi secara harfiah sudah tidak lagi menemukan relevansinya. Nampaknya tidak ada persamaan persepsi mengenai apa-apa saja yang sebenarnya bisa mendatangkan kesenangan dan apa-apa saja aktivitas yang bisa mendatangkan penderitaan. Esensi filosofis hedonistik terkadang punya konotasi seksual atau pemikiran liberal.

PEMBAHASAN
Berbicara mengenai hedonisme, maka kita tidak bisa mengesampingkan seorang filosof Yunani yang dinilai punya peranan signifikan dalam membangun epistemologi hedonisme, yaitu Epicurus of Sámos. Epikuros lahir tahun 342 SM di kota Yunani, Samos, dan meninggal di Atena tahun 270 SM[3].. Kelak prinsip-prinsip ajarannya tersebut dikenal dengan Epicureanisme. Epicureanisme adalah sebuah sistem filsafat yang bersumber dai ajaran-ajaran Epicurus yang dicetuskan sekitar tahun 307 SM. Inti epistemologi Epicureanisme dibangun diatas tiga kriteria kebenaran: Sensasi atau gambaran (aesthêsis), pra-konsepsi atau prasangka (prolêpsis) dan terakhir feelings atau perasaan (pathê). Prolepsis diartikan sebagai “kekuatan dasar” dan juga bisa didefinisikan sebagai “gagasan universal”, yaitu sebuah konsep dan cita-cita yang bisa dimengerti oleh semua orang.
Contohnya, seperti kata “laki-laki” yang setiap orang memiliki pendapat yang terbentuk sebelumnya mengenai apa itu laki-laki. Kemudian aesthesis atau sensasi (tanggapan pancaindera) dimaknai sebagai pengetahuan atau ilmu yang didapat melalui perasaan dan verifikasi empiris. Seperti kebanyakan sains modern, filsafat Epicurean menjadikan empirisisme sebagai alat untuk mengidentifikasi kebenaran dari kesalahan. Yang terakhir perasaan (feelings) yang sebenarnya erat kaitannya dengan etika daripada dengan teori fisiknya Epicurean yang akan mengkonfirmasikan kepada manusia tentang apa-apa saja yang akan memberi kesenangan dan apa-apa saja yang akan mendatangkan penderitaan. Dengan begini, menjadi penting untuk bisa mendapatkan potret utuh doktrin etika Epicurean.
Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan[4]. Bagi Epicurus, kenikmatan yang paling tinggi adalah tranquility (kesejahteraan dan bebas dari rasa takut) yang hanya bisa diperoleh dari ilmu pengetahuan (knowledge), persahabatan (friendship) dan hidup sederhana (virtuous and temperate life). Ia juga mengakui adanya perasaan-perasaan akan kesenangan sederhana (enjoyment of simple pleasures). Namun Epicurus mengartikan kesenangan sebagai sesuatu yang harus jauh dari hasrat-hasrat jasmaniah (bodily desires), semisal seks dan hawa nafsu. Ia menguraikan, ketika kita makan, jangan sampai terlalu kenyang dan berlebihan, karena bisa menyebabkan ketidakpuasan (dissatisfaction) nantinya. Maka konsekuensinya, nantinya dikemudian hari, seseorang tidak layak untuk menghasilkan makanan-makanan yang lezat.
Namun demikian, bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam[5]. Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan/harta yang berlebihan)[6]. Keinginan pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling besar. Oleh sebab itu kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros. Tujuannya untuk mencapai ''Ataraxia'', yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang[7].
Menurutnya, orang yang bijaksana adalah seorang seniman yang dapat mempertimbangkan pilihan nikmat atau rasa sakit[8]. Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan.  Ia menghindari tindakan yang berlebihan[9]. Oleh karena itu, ada sebuah perhitungan yang dilakukan oleh Kaum Epikurean dalam mempertimbangkan segi-segi positif  dan negatif untuk mencapai kenikmatan jangka panjang dan mendekatkan diri kepada ataraxia[10].
Epikuros juga sangat menegaskan kebijaksanaan [phoronesis][11]. Demikian juga, sejatinya seks bisa mendorong untuk meningkatkan birahi atau libido. Namun disisi lain, Epicurus beranggapan, terlalu sering melakukan hubungan seks akan mengurangi hasrat seksual, yang akan mengakibatkan pihak lain merasa tidak puas dengan dengan pasangan ngeseks-nya dan pastinya menyebabkan ketidakbahagiaan (unhappiness). Epicurus mengidentifikasikan ‘kesenangan’ dengan ‘kesentosaan’ (tranquility) dan penekanan kepada reduksi hasrat berlebih terhadap perolehan spontan kesenangan (the immediate acquisition of pleasure).
Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan[12]. Jadi menurut Epicurus, kesenangan bukanlah sesuatu yang pada dasarnya menyenangkan, justru kesenangan adalah kondisi sejahtera. Karena menurut dia kesenangan itu relatif. Dengan demikian, Epicureanisme melepaskan diri dari proposisi yang sebelumnya: kesenangan dan ‘manfaat yang utama’ (the highest good) itu sejajar. Kebahagiaan yang dituju oleh Kaum Epikurean adalah kebahagiaan pribadi (privatistik)[13].
Epicurus mengklaim bahwa kesenangan yang paling tinggi tercapai dari sesuatu yang sederhana, semisal kehidupan sederhana yang dijalani bersama teman-teman dan dari diskusi-diskusi filosofis. Dia menekankan bahwa, bukanlah hal baik jika seseorang melakukan sesuatu yang membuat seseorang yang lain (teman) merasa baik, yang apabila dengan pengalaman perbuatan tersebut seseorang justru meremehkan pengalaman-pengalaman yang akan datang dan membuat seseorang yang lain merasa tidak lagi nyaman[14].

PENUTUP
Dari segi kegunaan (aksiologi), bahwa kehidupan manusia perlu ditopang dengan nilai-nilai etika, agar keberadaannya betul-betul dapat dinikmati dengan penuh arti. Berkumpul dan berbincang-bincang dengan para kawan dan membina persahabatan jauh lebih menguntungkan dan membantu mencapai ketenangan jiwa[15]. Dengan ini berarti dehumanisasi tidak perlu terjadi bilamana human (manusia) bersikap legowo menetapkan etika kerja dan etika pengkajian ilmu. Itulah sebabnya mengapa kajian yang mendalam dan sungguh-sungguh ini dikemas dalam wadah filsafat. Menurut Epikuros, kebahagiaan terbesar bagi manusia adalah persahabatan[16]
Apa yang diajarkan oleh Epicuras sejatinya adalah sebuah tawaran untuk melakukan langkah yang stabil dalam menjalani kehidupan. Perlunya nilai etika dalam semua bidang dan sendi-sendi kehidupan meniscayakan tata kehidupan yang humanis. Meski sebagian yang lain menafikannya. Sebab yang terpenting adalah berpulang kepada kitanya, mau mengiktui etika atau tidak. Mudah-mudahan kesungguhan kita dalam pengamalannya itu akan beroleh manfaat yang besar dan tak hingga nilainya.
Hedonisme mengharapkan sebuah kemaslahatan yang sejatinya berasal dari masing-masing orang. Jika satu sama lain menyederhanakan diri dalam tata dan perolehan keinginan, maka sangat mungkin sekali kemaslahatan yang berarti menghindari perilaku culas dapat tercapai. Demikian makalah ini saya sampaikan, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.



[1] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press. 2008, hal. 12
[2] S. Praja Juhana, Alran-Aliran Filsafat Dan Etika. Jakarta. Prenada Media, 2003, hal.23
[3] Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika. Yogyakarta: Kanisius, 1997, hal. 49-50
[4] Ibid. 49-50
[5] K Bertens, Etika. Jakarta: Gramedia, 1999, hal. 235-236
[6] Ibid, hal. 235
[7] Ibid, hal. 238
[8] Op.cit. hal. 49-50
[9] Op.cit. hal. 50
[10] Op.cit. hal. 49-50
[11] Op.cit. hal. 50
[12] Op.cit. hal. 50
[13] Op.cit. hal. 50
[14] M Suradi Ramadhan,. 2009. Teori Nilai (Etika). Diunduh dari www.dpdimmriau.co.cc. 29/10/2011
[15]Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Petualangan Intelektual, 2004, hal.24
[16] Op.cit. hal. 50

Tidak ada komentar:

Posting Komentar