Tampilkan postingan dengan label SPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPI. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

Sejarah Kerajaan Turki Usmani

Sejarah Kerajaan Turki Usmani:
I. PENDAHULUAN
Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam politik ketika masuk dalam barisan tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan. Begitu juga masyarakat Turki menekankan pembaharuan-pembaharuan kelompok sekuleris Republik Turki, sehingga masyarakat Turki mempunyai ciri khas ke-Islamannya. Maka di tahun belakangan ini Turki telah memperlihatkan suatu kontras yang menyolok dengan negeri-negeri Islam di Timur Tengah, baik di bidang politik luar negeri, tapi kebanyakan negeri Islam lain telah memperlakukan dunia barat dengan sikap yang berkisar dari sikap netral sambil merenggut namun penuh harap sampai kepada sikap yang terang-terangan permusuhan sehingga timbullah permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Apakah yang menjadi politik bangsa Turki berkembang dan apakah ada perubahan-perubahan oleh bangsa Turki?
II. PEMBAHASAN
A. Asal Mula Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang berasal dari wilayah Asia Tengah, yang termasuk suku Kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi Sulaiman Syah, mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dan lari ke arah Barat. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya, yang kedua meneruskan perantauannya ke wilayah Asia Kecil.
Kelompok kedua itu berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh Erthegrol (Arthoghol) anak Sulaiman. Akhirnya mereka menghambakan dirinya kepada Sultan Ala Ad-Din II dari Turki Saljuq Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatholi, Asia Kecil. Ertheghol mempunyai seorang anak yang bernama Usman, kira-kira lahir tahun 1258. Nama Usmanlah ditunjuk sebagai nama kerajaan Turki Usmani.[1]
Namun dikawasan Timur, kekuatan Turki memperoleh tantangan dari dinasti Shafawiyyah, yakni dinasti lain yang muncul dari asal-usul yang tidak jelas, yang juga cikal bakal terbentuknya kabilah Turki. Terjadi perjuangan panjang guna mengendalikan wilayah-wilayah perbatasan yang terletak diantara pusat kekuasaan, yakni Anatolia timur dan Irak. Bagdad ditaklukkan oleh dinasti Utsmaniyyah pada tahun 1534 M, direbut oleh Shafawiyyah pada tahun 1623 M, dan tidak dikuasai lagi oleh dinasti Utsmaniyyah hingga tahun 1638 M. Sebagian disebabkan perjuangan melawan dinasti Shafawiyyah. Dinasti Utsmaniyyah berpindah ke selatan memasuki tanah-tanah kesultanan mamluk.
B. Bentuk Pemerintahan Turki Usmani
Gelar bagi penguasa Usmani adalah Padi Syah atau Sultan, gelar tersebut menandangi kaitannya dengan tradisi kerajaan Persia, tapi ia juga ahli waris tradisi Islam, mereka mengklaim bahwa dirinya adalah pelaksana otoritas yang absah dalam term-term Islam. Dinasti Usmaniyyah terkadang menggunakan gelar khalifah, akan tetapi gelar tersebut tidak membawa klaim apapun bagi otoritas universal atau eksklusif seperti pada pendahulu mereka, adakalanya gelar seorang sultan itu lebih dari sekedar lokal dan dengan menggunakan kekuasaannya untuk tujuan yang diridhoi agama.
Dinasti Usmaniyyah mempertahankan perbatasan Islam dan mengadakan ekspansi, mereka berseteru dengan dinasti Shafawiyyah untuk memperebutkan Anatholia dan Irak. Dinasti Shafawiyyah memproklamirkan Syiah sebagai agama resmi dinasti, sedangkan dinasti Usmaniyyah menganut ajaran Sunni seiring dengan perluasan imperium yang meliputi pula pusat-pusat budaya tinggi Islam perkotaan.[2]
Sultan bukan hanya sebagai pembela perbatasan-perbatasan Islam, melainkan juga sebagai pengawal kota-kota suci, Makkah, Madinah, Yerusalem, Zebron. Seorang sultan itu memiliki gelar sebagai pelayan kota suci, ia juga memegang pemerintahan pada zaman Turki Usmani, yaitu Pat Syiah yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin otoritas yang sah dalam term-term yang absah dalam Islam. Sistem pemerintahannya dipegang oleh pemerintah yang bertolak belakang dengan pendahulunya.
C. Birokrasi Usmaniyah Tradisional
Birokrat-birokrat dinasti Usmaniyyah yang dilatih dalam sistem istana dan bukan di madrasah atau di sekolah agama memiliki suatu pandangan lain terhadap hubungan timbal balik antara politik dan agama. Pandangan mereka dilukiskan sebagai mengutamakan rasion d’etat. Birokrat Usmaniyyah melihat pemeliharaan kesatuan negara dan kemajuan Islam sebagai tugasnya. Ini diungkapkan dalam rumusan Din U devlet (din wa daulat) atau agama dan negara. Tetapi aspek paling efektif dari kontrol pemerintahan Usmaniyyah terhadap lembaga Ulama, yaitu hirarki orang-orang berilmu atau memiliki pengetahuan keagamaan.[3]
Setelah ada birokrasi Usmaniyyah terjadi perubahan baik di dalam negeri kebanyakan diantara mereka telah menjalani suatu reaksi keagamaan dan politis yang garis besarnya sejajar sama-sama menuju masa depan yang belum pasti, tetapi ini berlaku di Mesir dan Nahas Via Faruq ke Najib, di Suriah, di Iran. Bahwa kita melihat kemerosotan dan keruntuhan pemerintahan parlementer dan pertumbuhan diktator. Tetapi toh hal tersebut terjadi dimana-mana. Turki telah menjadi dewan Eropa dan sesudah itu anggota Pakta Atlantik yang menjadikan semangat Turki lebih besar dari negara-negara lain.
Adapun kebijakan luar negeri Turki telah berjalan sejajar dengan negara-negara lain, karena perkembangan di dalam negeri yang serupa. Suatu gerak Westernisasi yang sukses dan kontinyu, suatu pertumbuhan dan perbaikan pemerintahan berparlemen.[4]
Pada puncak sistem kendali imperium yang luas ini bertahta seorang penguasa keluarga kerajaan “keluarga Usman”. Otoritas kekuasaan terletak pada keluarga dan bukan pada anggota yang ditunjuk, tidak ada hukum baku yang mengatur pergantian kekuasaan, yang ada hanyalah tradisi suksesi damai dan pemerintahan yang panjang hingga awal abad ke-17 M. Penguasa selalu digantikan oleh salah seorang putranya, akan tetapi setelah itu yang lazim berlaku adalah manakah keluarga tertua, sang penguasa hidup di tengah-tengah keluarga besar di dalamnya termasuk para Harem berikut pengawalnya, pelayan pribadi, tukang kebun, dan penjaga istana.
Kedudukan dibawah penguasa ditempati oleh Sadr-i azam (pejabat tinggi) atau dalam bahas Inggris lazim Grand Vizier (Menteri Besar). Setelah periode pertama dinasti Usmaniyyah, Sadr-i azam tadi dianggap memiliki kekuasaan mutlak yang berada langsung dibawah sang penguasa, ia dibantu oleh sejumlah wazir lain yang mengendalikan militer dan pemerintah provinsi serta pelayanan sipil. Sebagian besar militer Usman merupakan kekuatan kafaleri yang direkrut dari orang-orang Turki dan penduduk lain dari Anatholia dan pedesaan Balkan, kafaleri dibantu oleh sejumlah prajurit dan diberi hak pengumpulan dan penyimpan pajak atas lahan pertanian sebagai imbalan atas pelayanan yang mereka berikan. Sistem ini dikenal dengan sistem Timar.
Pada abad ke-16 M, mulai berkembang birokrasi yang rumit (kalemiye), yakni birokrasi yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu :
1. Sekretaris yang mempersiapkan secara seksama dokumen-dokumen pemerintah, peraturan dan tanggapan terhadap petisi.
2. Para petugas yang menjaga keuangan, penilaian terhadap aset yang terkena pajak serta catatan mengenai berapa besar jumlah pajak yang terkumpul.[5]
Pada paruh pertama abad ke-17 M, terdapat periode ketika kekuasaan pemerintah melemah, ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi, salah satunya adalah inflasi, dan hal ini diikuti oleh kebangkitan kembali kekuatan pemerintahan tetapi dalam format yang berbeda, yakni menteri besar menjadi lebih kuat, jalur promosi menjadi lebih banyak lewat keluarga istana menteri besar dan para pejabat tinggi lainnya daripada lewat keluarga istana penguasa. Imperium cenderung berubah menjadi Oligarkhi. Para pejabat yang kuat dan mereka ini terikat oleh sentimen Asykhabiyah, karena tumbuh dalam rumah tangga yang sama, pendidikan yang sama dan tidak jarang oleh kekerabatan dan perkawinan. Jadi, setelah pada paruh pertama abad ke-17 M, organisasi dan pola aktivitas pemerintahan sudah mencerminkan ideal kerajaan Persia (menurut Nizham al-Muluk -penulis tema sejenis-), maksudnya para penguasa harus menjaga jarak dengan lapisan masyarakat yang berbeda agar dapat mengatur aktifitas masyarakat dan memelihara harmonis segenap lapisan.[6]
D. Revolusi Turki
Turki Muda yang juga merupakan lawan-lawan sejati Sultan, menyadari bahwa mereka tidak dapat menyingkirkan Islam selama warga muslim dinasti etnis yang terdiri dari Multi Etnis tetap bertahan. Karena upayanya dinasti itulah yang menyebabkan Ataturk mampu melaksanakan pembaharuan-pembaharuannya sendiri. Tetapi menurut dia mengutamakan devlet atau negara yaitu negara modern.
Adapun tindakan-tindakan Ataturk sering disebut-sebut adalah penghapusan kekhalifahan, pemakaian undang-undang sipil Swiss, penggunaan abjad latin, pembatalan Islam sebagai agama negara dan pemalsuan prinsip sekulerisme dalam konstitusi Turki. Tetapi kecuali personalia Masjid dan direktorat jenderal urusan keagamaan yang masih dipersiapkan.
Dengan lenyapnya ilmu dan membangkitkan tarekat dihapuskan, Partai Rakyat Republik (The Republican People’s Party / RPP) menghancurkan dua kekuatan keagamaan Turki. Kemudian suatu sistem Multi partai mendapat lampu hijau sejak tahun 1946, dan RPP sadar bahwa dalam pemilihan umum mendatang ia harus bersaing dengan Partai Demokrat (The Democrat Party / DP).[7]
Di dalam pemilu yang bebas dan jujur di bulan Mei 1950. Sesudah kemenangan Partai Demokrat terdapat suatu periode penuh bahaya, yaitu ketika pertengkaran dan intoleransi yang bertambah-tambah besar kedua partai tersebut mengancam berfungsinya organisasi-organisasi yang menghasut, yang menyebarkan ide-ide rasional dan klerikal merupakan ancaman pula bagi eksistensi Republik Turki sendiri.[8]
Tetapi setelah kampanye pemilihan umum tahun 1957, Partai Demokrat dan sekte Nur mempererat suatu persekutuan yang sejak waktu itu menjadi sangat sementara sifatnya.
Kemudian Partai Demokrat diganti menjadi Partai Keadilan mengembalikan sikap santai terhadap Islamnya yang telah muncul pada akhir Perang Dunia II. Sehingga persatuan antara partai Demokrat dan kepentingan-kepentingan keagamaan telah menjadi suatu persekutuan kelompok Sunni. Kecenderungan ini bersamaan dengan toleransi yang diperbaharui pada tahun 1960-an, terbentuknya partai politik Awaliyah 1966 yaitu Partai Persatuan. Dan partai ini tidak berhasil dalam pemungutan suara. Tetapi daya upaya untuk pembentukannya dialihkan untuk mendukung kelompok-kelompok minoritas lain, diantaranya kelompok sayap kiri Turki. Sebaliknya golongan Marxis Turki berusaha tanpa kenal malu untuk memanfaatkan beberapa tema Awaliyah sebagai tema pemberontakan dan revolusi.[9]
Menurut De Toc Queville pada revolusi Perancis ketika gelombang pasang revolusi telah surut kembali dan banjir mereda, maka tonggak-tonggak serupa dan tradisional muncul kembali dan arus sejarah kembali menelusuri arus semula.[10]
E. Kehancuran Imperium Usmani dan Modernisasi Turki
Kehancuran imperium Usmani merupakan transisi yang lebih komplek dari masyarakat Islam imperial abad 18. Menjadi negara-negara nasional modern, rezim Usmani menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara, dan pada abad ke-19, secara substansial Usmani memperbaiki kekuasaan pemerintah pusat, mengkonsolidasikan kekuasaannya atas beberapa propinsi dan melancarkan reformasi ekonomi, sosial, dan kultural yang dengan kebijakan tersebut mereka berharap dapat menjadikan rezim Usmani mampu bertahan di dunia modern.
Meskipun Usmani telah berjuang mempertahankan reformasi negara dan masyarakat, namun perlahan-lahan imperium Usmani kehilangan wilayah kekuasaannya. Beberapa kekuatan Eropa yang terlebih dahulu mengkonsolidasikan militer, ekonomi dan kemajuan teknologi mereka sehingga pada abad ke-19 bangsa Eropa jauh lebih kuat dibandingkan rezim Usmani.
Untuk dapat bertahan, rezim Usmani bergantung pada keseimbangan kekuatan-kekuatan Eropa. Hingga tahun 1878 kekuatan Inggris dan Rusia berimbang dan hal ini menyelamatkan rezim Usmani dari mereka, namun pada tahun 1878 sampai 1914, sebagian besar wilayah Balkan menjadi merdeka dan Rusia, Inggris, dan Austria Hungaria semua merebut sejumlah wilayah Usmani hingga ia menjadi imperium yang tidak beranggota, memuncak pada akhir Perang Dunia I lantaran terbentuknya sejumlah negara baru di Turki dan di Timur Tengah Arab.[11]
III. KESIMPULAN
Bahwa kalau kita melihat rakyat Turki pada masa dahulu itu, perkembangan politiknya cukup bagus, karena sebelum Ataturk berkuasa Turki masih menggunakan hukum-hukum Islam dan sistem pemerintahannya menggunakan syari’at Islam. Setelah Ataturk berkuasa, maka sistem yang berbau agama dihilangkan menjadi republik Turki dan dunia perpolitikan semakin berkembang yang dahulunya pada tahun 1950-an pemilu diikuti dua partai, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat dan dimenangkan oleh Partai Demokrat.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997.
Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Mizan, Bandung, 2004.
Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1985.
Gustave E. Von G., Islam Kesatuan dalam Beragama, Yayasan Obor Indonesia dan LSI, Jakarta.
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000.





[1] Dr. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997, hal. 51-52.
[2] Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Mizan, Bandung, 2004, hal. 422-426.
[3] Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1985, hal. 201-222
[4] Gustave E. Von G., Islam Kesatuan dalam Beragama, Yayasan Obor Indonesia dan LSI, Jakarta, hal. 357-358.
[5] Albert Hourani, op.cit., hal. 414-415.
[6] Ibid., hal. 419.
[7] Harun Nasution, op.cit., hal. 224-227
[8] Gustave E. Von G., op.cit., hal. 358
[9] Harun Nasution, op.cit., hal. 288-299
[10] Gustave E. Von G., op.cit., hal. 360.
[11] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hal. 65-66.

Minggu, 20 Januari 2013

Sejarah Kerajaan Islam Dunia dan Indonesia


1. Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah dari bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ada tiga tokoh dalam penaklukan Spanyol di antaranya : Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nushain. Untuk pertama kalinya Thariq ibn Ziyad beserta pasukannya menyeberangi Selat kemudian mendarat dan menyiapkan pasukannya di Jabal Thariq (Gibraltar). Dengan ini, Raja Roderick dapat dikalahkan hingga akhirnya kota-kota penting dapat ditaklukkan seperti Cordova, Garnada, dan Toledo. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 87-89)
Pergantian amir tidak mempengaruhi operasi perluasan daerah, pada tahun 717-718 M. Operasi dilanjutkan dengan pemimpin al-Hurr bin Abdul Rahman al-Tsaqafi, gerakan menuju Spanyol Utara setelah menaklukkan Saragosa. Perluasan daerah itu terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Perluasan ke Spanyol masih diteruskan oleh setiap khalifah yang berkuasa di Damaskus. (Prof. Dr. Abu Su’ud, Islamologi Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta, Rineka Cipta, 2003, hlm. 70)
Masuknya Islam di Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam mengalami enam periode dengan berbagai peradaban pada saat itu. Konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan merupakan faktor-faktor yang mendukung hancurnya Islam di Spanyol, tapi meskipun demikian Islam berpengaruh besar terhadap peradaban di Eropa. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 110)
Spanyol atau dahulu lebih dikenal dengan Andalusia yang terletak di benua Eropa yang letak geografinya sangat dekat sekali dengan Afrika Utara yang pada waktu itu merupakan daerah perluasan Islam pada masa khalifah al-Walid sehingga memungkinkan bagi Islam untuk melakukan ekspansi ke daerah itu. Kira-kira selama 7 abad Islam mengibarkan benderanya di Spanyol, sudah barang tentu Islam meninggalkan peradaban-peradaban baik yang bersifat intelektual maupun segi fisik bangunan. Spanyol di bawah kekuasaan umat Islam telah mencapai kejayaan yang gemilang. Banyak kemajuan yang diperoleh dan pengaruhnya terasa sampai ke Eropa bahkan sampai ke seluruh dunia. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat sekarang ini sangat berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pada zaman dahulu.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama untuk menyerap peradaban Islam bagi Eropa, baik melalui hubungan politik, sosial maupun peradaban antar negara, hingga Eropa mengakui bahwa Spanyol di bawah pemerintahan umat Islam yang lebih maju dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, terutama di bidang pemikiran sehingga timbul Averoisme (Ibn Ruysd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir.
2. Masa Kemunduran (1250-1500) dan Latar Belakang / Sebab-Sebab Timbulnya Masa Kemunduran
Pada tahun 1258 M kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Bani Abbas dengan khalifah al-Mu’tashim jatuh ke tangan bangsa Mongol (dipimpin oleh Hulagu Khan). Bangsa Mongol yang beragama Syamaniah, bersama suku Nomad-nya berambisi menaklukkan dunia dan menghancurkan wilayah yang dilaluinya, mereka menyerang dan meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan yang tak tunduk pada perintahnya. Sebagian besar penduduk di sembelih laksana binatang, kemudian dirampas hartanya, mereka melakukan perbuatan yang kejam dan ganas tidak berperikemanusiaan. Gedung-gedung yang indah, madrasah, Masjid mereka rusak. Atas kemenangan umat Islam mereka mendirikan dinasti Ilhan yang diteruskan dengan berbagai serangan oleh Timur Lenk, anak keturunan bangsa Mongol. Ada satu dinasti yang selamat dari kehancuran akibat serangan Mongol, yaitu dinasti Mamalik Mesir, hingga akhirnya pusat ilmu yang tadinya ada di Baghdad perpindah ke Mesir.
Adapun sebab-sebab timbulnya masa kemunduran adalah :
a. Jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol
b. Runtuhnya daulat Abbasiyah yang memerintah Baghdad pada masa itu (1258 M)
c. Terpecahnya kekuasaan Islam pada saat itu, kekuasaan Islam terpecah menjadi tiga daerah kekuasaan :
1) Kekuasaan bangsa Mongol dengan luas daerah kekuasaannya dari India sampai ke Syria
2) Kekuasaan bangsa Turki dari perbatasan Syria sampai ke Mesir
3) Kekuasaan bangsa Arab di daerah-daerah selain daerah yang dikuasai oleh Mongol dan Turki.
d. Kurangnya persatuan di antara umat Islam.
(Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 111-128 dan Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2005, hlm. 229-248)
Bangsa Mongol yang berskala kecil dan termasuk bangsa Nomaden telah begitu kuat mengubah sejarah peradaban Islam dari sepanjang Laut Tengah dengan penuh kegigihan mendirikan kemiliteran yang begitu hebat dalam kurun waktu yang relatif singkat. Sehingga dapat mengalahkan umat Islam yang berskala besar. Peradaban yang di bina sekian lama dalam masa beberapa periode (dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayyah) lenyap begitu saja oleh bangsa Mongol tak berperikemanusiaan, rakus akan kekuasaan. Mereka menganggap hanya ada satu Tuhan di dunia, makanya ia juga beranggapan hanya ada satu penguasa di dunia, yakni dari bangsanya yaitu Mongol.
3. Tiga Kerajaan Besar dan Penyebab Kemundurannya
A. Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah Usman I, ia adalah kabilah Oghuz, yang tinggal di Mongol dan daerah utara negara Cina. Atas dasar membantu berperang melawan Bizantium, oleh Sultan Alauddin II mereka diberi tanah di Asia Kecil, atas kemenangannya kemudian oleh Usman didirikan sebagai kerajaan Turki Usmani (1290 M – 1326 M) hingga akhirnya mengadakan perluasan daerah dan menaklukkan kota-kota lain seperti Abdrianopel yang kemudian dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan yang baru. Turki Usmani sangat terkenal dengan kemiliterannya sehingga mampu mengadakan ekspansi sampai Eropa. Kerajaan Turki Usmani bermadhab sunny, mengalami kejayaan pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni.
Penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani
1) Wilayah kekuasaan yang sangat luas
2) Heterogenitas enitas penduduk
3) Kelemahan para penguasa
4) Budaya Pungli
5) Pemberontakan tentara jenis sari
6) Merosotnya ekonomi
7) Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi.
B. Kerajaan Safawi di Persia
Kerajaan Safawi berasal dari tarekat Safawiyah yang berdiri di Ardabil, Azerbaijan dan didirikan oleh Safi al-Din (1252–1334 M). Kerajaan Safawi menetapkan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan ini di anggap sebagai peletak dasar terbentuknya negara Iran. Puncak kejayaan pada masa Abbas I, karena mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah di rebut oleh kerajaan lain pada masa raja sebelumnya.
Penyebab kemunduran kerajaan Safawi di Persia
1) Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani
2) Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi
3) Gagalnya pembentukan pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I
4) Sering terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
C. Kerajaan Mughal di India
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai Ibu Kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482–1530 M). Pada awalnya Babur dimintai bantuan untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim di Delhi oleh paman penguasa India (Ibrahim Lodi), dan akhirnya kemenangan berpihak padanya, tetapi rajanya meninggal dunia. Akhirnya Babur memasuki kota Delhi karena di sana vacuum of power sehingga ia menegakkan pemerintahannya dan mendirikan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Mughal terkenal dengan kemiliterannya sehingga Sultan adalah penguasa diktator. Kerajaan Mughal menetapkan Sunny sebagai madzhab negara kerajaan Mughal di India hancur pada tahun 1858 M.
Penyebab hancurnya kerajaan Mughal di India
1) Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime mughal.
2) Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3) Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4) Semua pewaris tahta adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
(Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 111-128 dan Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 427-496)
Suatu pertanyaan yang selalu membenak di hati, mengapa tiga kerajaan di atas disebut sebagai kerajaan besar? Kalau kita tengok ke belakang awal mula berdirinya tiga kerajaan tersebut adalah berdiri dengan sendiri secara mandiri tanpa meneruskan kekuasaan pemerintahan nenek moyangnya, dengan kemandiriannya dalam membentuk suatu pemerintahan tiga kerajaan besar itu mampu berkembang hingga mencapai kejayaan yang gemilang dengan memperluas kekuasaan di sekitarnya hingga mampu membangun peradaban-peradaban Islam yang dapat kita ketahui sampai sekarang. Walaupun secara kualitasnya masa keemasan tiga kerajaan besar tersebut lebih jauh gemilang dengan kerajaan (dinasti-dinasti) Islam pada masa klasik, yang mendahulukan ilmu pengetahuan dari pada kemiliteran yang berfungsi sebagai peperangan untuk melakukan ekspansi seperti yang dilakukan oleh tiga kerajaan besar ini.
4. Kedatangan Islam di Indonesia
Sekitar Abad I / 7 M, meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar, Islam telah masuk ke Indonesia tepatnya di pesisir Sumatera. (Prof. A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Banda Aceh, PT. al-Ma’arif, 1989, hlm. 7). Dengan bukti adanya makam Fatimah binti Maemun di Leran (Gresik, Jatim) yang berangka tahun tertua yang bergaya kufi memberi kesan kuat bahwa nisan tersebut dibuat di Gujarat, India. Tetapi kehadiran Islam di Indonesia secara lebih nyata sekitar abad 13 M, yakni dengan adanya makam Sultan Malik al-Saleh. (Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu, 1998, hlm. 54). Hal di atas diperkuat lagi dengan kedatangan Marco Polo yang telah menuliskan kisah tentang petualangannya ke Dunia Timur dan sempat singgah di Pelabuhan Perlak yang di situ sudah ada penduduk yang memeluk Islam.
Sejarah juga mencatat Islam datang ke Indonesia abad ke-7 hingga abad ke-16 ini melalui pedagang muslim (Arab, Persia dan India) yang datang ke pesisir Sumatera Utara. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 119)
Beberapa proses Islamisasi di Indonesia antara lain lewat jalur perdagangan, perkawinan antara saudagar dengan penduduk pribumi, kesenian, pondok pesantren, politik maupun tasawuf. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 202–204)
Islam sangat mudah masuk ke Indonesia, karena Islam bersifat fleksibel, luntur, lunak, tidak memaksa, dibuktikan dengan adanya akulturasi antara kebudayaan yang telah ada (Hindu–Budha) kepercayaan penduduk sebelum Islam datang, sebagai contoh yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan pewayangannya, sehingga masyarakat sedikit demi sedikit mau menerimanya. Islam menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara serta gaya hidup, yang secara kualitatif lebih maju dari kebudayaan yang ada. Tidak hanya dibidang renungan teologia monotheismenya dibanding teologia polytheisme, tetapi juga di bidang kehidupan kemasyarakatan yang tidak mengenal kasta. Dan di banding kebudayaan asli kita, yang tidak mengenal sedikit saja menyerap pengaruh kebudayaan Hindu–Budha, di mana masih dominan paham yang oleh Barat dicapnya sebagai “Animisme” dan “Dinamisme” primitif. Maka ajaran Islam lebih jelas secara kualitatif jauh lebih maju, terutama di bidang teologia monotheismenya yang membebaskan manusia dari belenggu ketakhayulan dan kemusyrikan.
5. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
A. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai terletak di pesisir timur laut Aceh dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M dengan raja yang pertamanya adalah Malik al-Saleh dengan pusat kerajaanya ada di Muara Sungai Peusangan. Kerajaan berlangsung sampai abad 1524 M Samudra Pasai ditaklukkan Portugis dan akhirnya pada tahun 1524 M di aneksasi oleh raja Aceh, Ali Mughyat Syah dan selanjutnya ada di bawah pengaruh kesultanan Aceh.
B. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak di Aceh Besar (sekarang), berdiri pada tahun ke-15 M dengan raja Ali Mughyat Syah. Puncak kekuasaan terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608–1637 M), kerajaan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan Turki Usmani pada saat itu. Pada masa itu daerah sekitarnya sudah memeluk Islam kecuali rakyat batak. Runtuhnya Aceh ketika tonggak kepemimpinan dipimpin oleh seorang perempuan pada tahun 1641–1699, beberapa wilayah taklukannya lepas dan terpecah belah hingga akhirnya pada abad ke–18 M Kasultanan Aceh tinggal bayangan belaka.
C. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan pertama di Pulau Jawa dengan rajanya Raden patah, terjadi kurang lebih sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke­-16.
D. Kerajaan Pajang
Pajang merupakan lanjutan dari kerajaan Demak terletak di Kartasura, kerajaan Pajang merupakan kerajaan pertama di pedalaman pulau Jawa. Sultan pertamanya adalah Jaka Tingkir atau Adiwijaya. Pada masa sejarah Islam di Jawa yang asalnya berada di pesisir pantai kini berpindah ke pedalaman yang membawa akibat besar dalam perkembangan Islam di Jawa. Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618.
E. Kerajaan Mataram
Pendiri kerajaan Mataram adalah Ki Pamenahan, yang mana mendapat tanah Mataram oleh Sultan Adiwijaya untuk memberontak Aria Penangsang, dan Ki Pamenahan mendapatkan kemenangan, hingga akhirnya di sana mulai ditempati pada tahun 1577 M dan menjalankan pemerintahan. Pada masa Sultan Agung kontak-kontak bersenjata antara kerajaan Mataram dengan VOC mulai terjadi.
Konflik datang bertubi-tubi, dalam setiap konflik yang tampil sebagai lawan adalah mereka yang didukung oleh para ulama yang bertolak dari keprihatinan agama, hingga terjadi pemerontakan-pemberontakan yang mengakibatkan runtuhnya Keraton Mataram.
F. Kerajaan Cirebon
Kesultanan Cirebon adalah kerajaan yang pertama yang ada di Jawa Barat, pendirinya adalah Sunan Gunung Jati pada abad ke-16.
G. Kerajaan Banten
Pendiri kerajaan Banten adalah Hasanuddin putra dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1568 dan beliau adalah raja pertamanya. Kesultanan bergantian secara turun temurun hingga akhirnya pada masa Sultan Abul Fath terjadi beberapa kali peperangan antar Banten dan VOC yang berakhir dengan disetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M.
H. Kerajaan Banjar di Kalimantan
Pendirinya adalah Pangeran Samudera atau Sultan Suryatullah / Suryan Syah setelah berhasil menghalau serangan dari Daha berkat bantuan Demak. Kerajaan ini merupakan penerus dari kerajaan Daha yang mayoritas masih menganut agama Hindu–Budha.
I. Kerajaan di Maluku
Sekitar tahun 1460 M raja Ternate, Vongi Tidore memeluk agama Islam, raja yang benar-benar muslim adalah Zayn al-‘Abidin (1486–1500 M), karena usia Islam masih muda di Ternate, Portugis yang tiba dari sana tahun 1522 M, berharap dapat menggantikannya dengan agama Kristen, tetapi usaha mereka hanya mendatangkan hasil yang sedikit.
J. Kerajaan di Sulawesi
Kerajaan ini bernama kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya pulau Sulawesi, raja pertamanya adalah Alauddin (1591–1636 M), karena tradisi seorang raja menyampaikan pesan, maka dengan itu kerajaan Soppeng, Wajo, Bone pun akhirnya menerima Islam.
Jika kita teliti lebih lanjut letak geografi kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia mayoritas terletak di pesisir pantai seperti Samudra Pasai, Demak, Aceh, Sulawesi, Maluku, Kalimantan itu dikarenakan lajur pelayaran merupakan sarana perdagangan antar pulau sehingga memungkinkan untuk proses Islamisasi di sana, yang bisa disalurkan lewat beberapa kerajaan. Adapun kerajaan yang ada di pedalaman merupakan masa transisi politik pesisir ke pedalaman yang dapat mengembangkan Islam secara merata baik di pesisir, perkotaan maupun di pedalaman. Perlu diketahui bahwa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sangat dipengaruhi oleh peran Walisongo, dibuktikan dengan adanya kesultanan di Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati yang sebelumnya banyak berkiprah di Demak, dan adanya Sunan Giri yang menjadi guru para raja di Maluku yang berguru di Sunan Giri dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif, Prof. Dr. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu, 1998.
Hasymy, A., Prof. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Banda Aceh, PT. al-Ma’arif, 1989.
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999.
Su’ud, Abu, Prof. Dr. Islamologi Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta, Rineka Cipta, 2003.
Wakil, Muhammad Sayyid, Dr. Wajah Dunia Islam dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2005.
Yatim, Badri, Dr. MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004.